Showing posts with label solo mengajar. Show all posts
Showing posts with label solo mengajar. Show all posts

4/21/2015

Melanjutkan kisah sebelumnya, mari kita kembali menapak tilas perjalanan kerjasama Solo Mengajar dan Taman Cerdas Gandekan.
Fun music education
Gandekan Squad Versi Jadul
VOLUNTEER 7

Kepala Sekolah: Ahmad Saifudin
Kegiatan Reguler:
            Kegiatan belajar mengajar pada periode ini kembali berjalan lancar. Volunteer 7 yang menjadi garda terdepan dalam pembelajaran sangat bisa diandalkan. Selain itu, hari pembelajaran antar Taman Cerdas maupun Rumah Mengajar tak lagi sama pada periode ini. Hal ini memungkinkan vols dari TC maupun RM lain untuk saling bahu membahu dalam proses pembelajaran. Di sisi lain, para vols juga mulai aktif mengajak teman-temannya untuk turut mengajar. Hasilnya? tak ada lagi yang namanya kekurangan tenaga pengajar seperti yang terjadi pada periode sebelumnya. Bahkan, pengajar TC Gandekan adalah yang paling banyak apabila dibandingkan dengan TC maupun RM lain.
            Kembalinya tenaga pengajar berdampak pada kembalinya adik-adik yang dulu sempat menghilang. Ada sedikit cerita pada waktu vols 7 ini mengajar pertama kali di TC Gandekan. Ada beberapa dari mereka yang mendapat penolakan dari adik-adik sebelum akhirnya kini mereka menjadi salah satu pengajar favorit di TC Gandekan. Contoh? lihat foto di bawah ini.
fun music education solo mengajar
Puput Saputro in Action
Kegiatan Non Reguler:
            Pada periode ini di Solo Mengajar telah diberlakukan sistem pembelajaran tematik berdasarkan bulan. Misalnya saja bulan musik, maka pada bulan itu kegiatan non reguler yang dilaksanakan tak jauh-jauh dari yang namanya musik. Kegiatan non reguler yang paling menonjol pada periode ini adalah peringatan Hari Kartini di Car Free Day. Di sana kami membuat stand pameran karya-karya mereka, baik itu berupa gambar maupun puisi. Selain itu, adik-adik juga diminta untuk menampilkan talent mereka, yaitu berupa pembacaan puisi dan bermain musik.
taman cerdas gandekan solo mengajar
Kartini's Day di Car Free Day
            Tak hanya peringatan Hari Kartini, pada periode ini kami pun turut berpartisipasi dalam acara Kirab Bhinneka yang diadakan oleh Kelurahan Gandekan. Dalam acara ini sendiri hadir langsung Walikota Solo, Bapak Rudy.
taman cerdas gandekan solo mengajar
Kirab Bhinneka Kelurahan Gandekan
            Ah iya, satu lagi. Kami juga ada buka bersama juga dengan kawan-kawan Kimia 2010 MIPA UNS. Terima kasih kakak-kakak. Nih, tak kasih senyum termasnisku :)
taman cerdas gandekan solo mengajar
Buka Bersama Kimia MIPA UNS '10 - TC Gandekan
Catatan Kecil:
            Selain sebagai kepala sekolah yang bertugas untuk memastikan kegiatan belajar mengajar di TC Gandekan berjalandengan lancar, aku turut mewajibkan vols di TC Gandekan untuk menuliskan ceritanya tentang Solo Mengajar. Meski hingga saat ini masih ada aja yang belum juga ngirim. Semoga setelah baca tulisan ini mereka sadar bahwa aku masih menantikan tulisan dari mereka. Hihi *ketawa jahat
            O iya, pada periode ini juga mulai diadakan Gandekan on Vacation (GOV). Sebuah acara yang bertujuan untuk mengakrabkan vols Gandekan. Acara GOV pertama ini dilaksanakan di Pantai Pok Tunggal. GOV akhirnya menjadi agenda wajib di tiap angkatan vols TC Gandekan. Simpelnya GOV ini dilaksanakan setahun 2 kali.
taman cerdas gandekan solo mengajar
Gandekan on Vacation at Pok Tunggal

VOLUNTEER 8

Kegiatan Reguler:
            Secara umum kegiatan reguler pada periode ini berjalan lancar meski Volunteer 8 cukup sering absen. Hal ini dapat tercover karena vols 7 masih banyak yang bertahan. Vols 7 yang tidak lagi mengajar hanyalah mereka yang sudah di luar kota, selebihnya masih berpartisipasi aktif di tiap kegiatan belajar mengajar. Aku kira tak banyak hal yang menjadi catatan karena tak berbeda dari periode sebelumnya selain tambahan vols 8.

Kegiatan Non Reguler:
            Masih menggunakan bulan tematik, kegiatan non reguler pada periode ini pun disesuaikan dengan tema per bulannya. Kegiatan non reguler yang paling menonjol pada periode ini adalah adanya pentas akhir tahun. Pentas akhir tahun yang bertajuk “Fun Music Education” ini berlangsung cukup meriah. Pada acara ini kami mencoba menampilkan bakat-bakat dari adik-adik yang kami ajar. Ada yang menampilkan teater, berbagai jenis seni tari, dan gerak lagu. Tak mau ketinggalan dengan adik-adik, kami para vols, pengurus TC, dan karang taruna pun turut menyumbangkan penampilan. Acara ini sendiri dihadiri oleh warga sekitar, orang tua murid, perangkat desa, bahkan Pak Camat dan Kapolres Jebres pun turut hadir. Ah, terharu rasanya jika mengingat bagaimana kami mempersiapkan acara ini dengan segala keterbatasan.
taman cerdas gandekan solo mengajar
Teater Bocah ft Volunteer at Gandekan Fun Music Education
taman cerdas gandekan solo mengajar
Tari Bali, perform by Putri, Lita, dkk
taman cerdas gandekan solo mengajar
Musikalisasi Puisi by Pakdhe Joko dan Pengurus TC Gandekan
Catatan Kecil:
            Sebagai mantan kepala sekolah, aku tidak lagi terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Hanya terkadang jika diperlukan aku masih mengajar, selebihnya aku lebih banyak bertugas mengkondisikan adik-adik yang berlarian dan enggan belajar.
            Ah, iya. Di akhir periode ini TC Gandekan kedatangan tamu spesial. Beliau adalah Mendikbud, Bapak Anies Baswedan.
Anies baswedan solo mengajar
Kunjungan Mendikbud, Bapak Anies Baswedan di TC Gandekan

VOLUNTEER 9

Kepala Sekolah: Rahmad Aditya Caesar
Status: On Going...haha

            Kurang lebih begitulah jejak langkah kami, Solo Mengajar di Taman Cerdas Gandekan selama 2 tahun ini. Semoga jejak-jejak langkah ini dapat menjadi pembelajaran bagi vols generasi selanjutnya dan menjadi catatan sejarah kami, Solo Mengajar. Dan untuk mengakhiri kilas balik ini, yuuk, jargon dulu...

TC GANDEKAN...CERIA, SEMANGAT, YESS!!
SM....TOP!!
           

NB: Jika sekiranya ada informasi yang kurang atau perlu dikoreksi silahkan ditulis langsung saja di kolom komentar. InsyaAllah akan aku benerin. Mohon kerjasamanya demi menjaga jejak langkah kita kawan :D

Posted on 1:26:00 PM by Unknown

No comments

Time fly so fast. Tak terasa, tepat pada 28 April 2015 nanti, tepat 2 tahun sudah kerjasama antara Solo Mengajar dengan Taman Cerdas Gandekan terjalin. 2 tahun yang bisa jadi merupakan waktu yang lama namun bisa juga merupakan waktu yang begitu singkat. Lama jika melihat telah banyak sekali kenangan yang terukir selama 2 tahun ini. Singkat jika melihat masih banyak sekali PR yang masih harus kami selesaikan. Namanya juga pergerakan. Takkan pernah mengenal kata akhir.
Baik, mari kita coba menapak tilas jejak-jejak perjalanan ini.

28 APRIL 2013
Matahari pagi hari ini bersinar cukup cerah. Secerah masa depan Solo Mengajar yang pada hari ini akan memasuki babak baru. Jika sebelumnya Solo Mengajar hanya mengajar di Taman Cerdas Mojosongo, maka setelah hari ini Solo Mengajar akan mengajar di tempat baru. Tempat di mana lilin-lilin harapan ini mendapatkan tempat untuk bersinar, bahkan mungkin lebih terang. Tempat baru itu bernama Taman Cerdas Gandekan.
Dihadiri langsung oleh para sesepuh Solo Mengajar (Sebut saja Pak Yoga dan Pak Hanny), pengurus Taman Cerdas Gandekan, segenap perangkat desa, warga sekitar dan tak ketinggalan para volunteer Solo Mengajar, berlangsunglah acara peresmian kerjasama Solo Mengajar-Taman Cerdas Gandekan. Acara yang diselenggarakan cukup sederhana dengan nuansa Hari Kartini ini berlangsung lancar. Puncak acara ini sendiri berupa penandatanganan kerjasama antara pihak Solo Mengajar dan Taman Cerdas Gandekan. Dengan adanya hitam di tas putih ini, resmi sudah Solo Mengajar memasuki babak baru. Babak baru dalam usahanya memberi pelayanan pendidikan di seluruh wilayah Kota Solo.
taman cerdas gandekan solo mengajar
Peresmian Kerjasama Solo Mengajar-Taman Cerdas Gandekan
2 MEI 2013
Hari itu adalah hari di mana pertama kali kegiatan belajar mengajar di TC Gandekan dilaksanakan. Begitulah seingatku. Jika salah tolong kasih tahu ya, hhe. Sejak hari itu hingga sekarang, kegiatan belajar mengajar di sana masih terus berlangsung tiap Selasa dan Kamis malam. Untuk mempermudah menapak tilas perjalanan 2 tahun Solo Mengajar-TC Gandekan maka akan aku bagi berdasarkan angkatan volunteer.

taman cerdas gandekan solo mengajar
Ken - Deka in Action
VOLUNTEER 5

Kepala Sekolah: Helmi Mukti Yulia
Kegiatan Reguler:
Kegiatan reguler pada periode ini berjalan cukup lancar. Volunteer 5 yang waktu itu baru saja bergabung dan mendapatkan kontrak kerja selama 2 bulan menjalankan tugasnya dengan baik. Tiap kelas waktu itu diampu oleh tiga orang vols, dengan salah satunya menjadi koordinator. Tiga orang inilah yang nantinya bertanggung jawab terhadap keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di kelas tersebut.
Adik-adik yang ikut belajar bersama di TC Gandekan pada masa ini pun banyak. Hm, anggep saja sekurang-kurangnya 60 anak hadir tiap Selasa dan Kamis malam. Dan menurutku, pada masa ini adik-adiknya kebanyakan masih nurut dan masih malu-malu. Ah, ada beberapa dari mereka yang sekarang tak lagi hadir. Miss them T.T
taman cerdas gandekan solo mengajar
Kegiatan Belajar Mengajar
.Kegiatan Non Reguler:
Tak banyak kegiatan non reguler yang diadakan pada periode ini. Kegiatan non reguler yang dilaksanakan pada periode itu salah satunya adalah Outbond di lapangan kelurahan. Selain bermain di setiap posnya, dalam kegiatan ini adik-adik diajak berkeliling kelurahan sambil memungut sampah yang mereka lihat di sepanjang jalan.
taman cerdas gandekan solo mengajar
Outing Class
Catatan Kecil:
Pada periode ini awalnya aku mengajar di kelas 1-2. Namun seiring dengan kedatangan volunteer 5, aku pun harus merelakan mereka mengambil tempatku. Aku tak punya kelas yang tetap, kadang ngajar kelas ini, kadang ngajar kelas itu. Ya udah kayak stuntman gitu, pengganti pemeran utama apabila berhalangan. Haha.

VOLUNTEER 6

Kepala Sekolah: Apriliana Kurniasari
Kegiatan Reguler:
Kegiatan reguler pada periode ini tak berjalan semulus periode sebelumnya. Volunteer 6 yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam sebagai pengajar di sana terkena seleksi alam. Tak banyak yang bertahan sampai akhir. Di sisi lain, vols 5 yang kontraknya sudah habis pun tak banyak yang recommit sehingga pada periode ini tak jarang kami kekurangan tenaga pengajar. Apalagi waktu itu Solo Mengajar telah membuka pelayanan di 5 Taman Cerdas dan 1 Rumah Mengajar. Hal ini membuat volunteer menjadi tersebar dan tidak bisa saling membantu karena jadwal kegiatan belajar masih bebarengan. Selasa dan Kamis.
Berkurangnya vols pada periode ini berpengaruh pada berkurangnya adik-adik yang belajar di TC Gandekan. Bisa jadi hal ini dikarenakan ada sejumlah anak yang tidak mendapatkan perhatian sehingga akhirnya mereka memilih untuk tidak berangkat.

Kegiatan Non Reguler:
Sama seperti periode sebelumnya, kegiatan yang paling menonjol di periode ini adalah Outbond. Bedanya outbond pada periode ini dilakukan di Sondokoro, Karanganyar. Selain tempat yang notabene lebih jauh, pada outbond kali ini pesertanya pun tak hanya anak-anak, orang tua mereka pun turut kami ajak.
taman cerdas gandekan solo mengajar
Outbond di Sondokoro, Karanganyar
taman cerdas gandekan solo mengajar
Outbond di Sondokoro, Karanganyar
Catatan Kecil:
Pada periode ini aku tak lagi menjadi stuntman. Kurangnya pengajar membuat aku kembali menjadi pemeran utama. Haha. Aku biasanya mengajar kelas 5 pada periode ini.


NB: Jika sekiranya ada informasi yang kurang atau perlu dikoreksi silahkan ditulis langsung saja di kolom komentar. InsyaAllah akan aku benerin. Mohon kerjasamanya demi menjaga jejak langkah kita kawan :D

Posted on 9:09:00 AM by Unknown

No comments

3/24/2015

solo mengajar
Bila menengok jauh ke belakang seolah tak ada malam yang lebih berkesan selain Rabu malam di Bulan Desember tahun 2012. Semua kisahku bersama Solo Mengajar berawal dari Rabu malam. Rabu malam itu kali pertama aku menginjakkan kaki di Taman Cerdas Mojosongo. Kali pertama pula aku mengenal Solo Mengajar.
Tentang mengajar. Mengajar memang bukan hal yang asing bagiku tapi Rabu malam itu menjadi kali pertama aku mengajar bersama teman-teman Solo Mengajar. Meskipun bukan yang pertama kali mengajar anak-anak, waktu itu timbul rasa was was jika saja aku melakukan kesalahan. Alhasil akupun masih kikuk dalam mengawali pembelajaran.
Aku yang malam itu “menyusup” di antara teman-teman Solo Mengajar mendapatkan hukuman turut serta mengajar. Sebagai terpidana, maka tak ada pilihan lain bagiku selain menjalani hukuman tersebut dengan legawa. Aku berjalan pelan mengikuti Mas Deka menuju ke ruang komputer. Di sana sudah ada sekumpulan anak kelas 5 SD yang terlihat masih asyik bermain. Melihat kedatangan kami mereka pun berhenti bermain dan duduk melingkar bersiap memulai kegiatan belajar mengajar. Oleh Mas Deka aku diberi tugas mengajar murid perempuan.
Kini di depan mataku sudah ada 5 siswi kelas 5 SD yang harus aku bimbing selama satu jam ke depan. Aku yang masih kikuk mencoba melirik kelompok sebelah yang dikomandoi oleh Mas Deka. Mengamati dengan seksama, memastikan tak ada yang terlewat untuk kemudian mencoba menirukan apa yang ia lakukan.
“Ooohh…”,ujarku dalam hati merasa sudah paham dengan apa yang dilakukan oleh Mas Deka. Aku pun mencoba mengawali kegiatan belajar mengajar dengan berdoa bersama. Setelah itu karena aku asing bagi mereka, sebagaimana juga mereka asing bagiku maka aku ajak mereka berkenalan. Aku coba memperkenalkan diri terlebih dahulu kemudian aku minta mereka memperkenalkan diri satu per satu.
Dari 5 orang siswi tersebut ada satu siswi yang cukup menarik perhatianku. Sebut saja dia Bunga. Begitulah teman-teman memanggilnya. Bunga bukanlah nama samaran yang biasa digunakan dalam berita kriminal di televisi tapi ini memang nama dia sesungguhnya. Sekilas dia memang nampak biasa kecuali pipi chubby dan potongan rambut khas tokoh animasi Dora The Explorer yang membuatnya kelihatan menonjol di antara teman-temannya yang lain. Tampilannya yang khas tersebut membuatku mudah mengingatnya bahkan hingga saat ini, padahal di sisi lain aku sudah lupa siapa saja 4 anak yang lainnya. Ehm, satu lagi yang kuingat darinya, suaranya yang cenderung ngebass membuatnya nampak lebih dewasa dari pada usianya.
Perkenalan berjalan dengan lancar. Mereka sempat tertawa saat aku memperkenalkan diri. Maklum, dengan nama Udin yang cukup terkenal kala itu membuat siapapun akan tertawa terutama anak-anak yang memang miskin akan kepura-puraan. Meskipun begitu ada hikmahnya juga memiliki nama yang terkenal yaitu mudah diingat. Hal ini terbukti saat aku mengajar untuk kedua kalinya mereka masih mengingat namaku dengan baik bahkan justru aku yang lupa dengan nama mereka. Jadi malu sendiri.
Setelah merasa kehadiranku dapat diterima dengan baik oleh mereka aku pun memulai pembelajaran malam itu. Kebetulan saat itu mata pelajaran yang diajarkan adalah bahasa Inggris. Materinya sendiri berkisar tentang berbagai jenis profesi seperti polisi, dokter, suster, tukang batu, penjahit, dan lain sebagainya. Meskipun aku malam ini mengajar tanpa persiapan, aku cukup yakin bahwa aku cukup menguasai materi tersebut.
Pembelajaran berjalan lancar hingga Bunga dengan rasa ingin tahunya melemparkan sebuah pertanyaan padaku. “Mas, bahasa Inggrisnya pramugari apa?”
Eee..apa ya? Duh, aku lupa bahasa Inggrisnya pramugari. “Bentar ya..”, aku yang tidak mau Bunga tau bahwa aku lupa mencoba mengulur waktu. Kucoba buka buku pelajaran bahasa Inggris miliknya berharap jawabannya tersedia di sana. Kucoba membolak-balikkan lembar demi lembar buku tersebut namun tak kunjung ku temukan jawabannya. Aku pun mulai menyerah. Sepertinya memang benar apa yang orang-orang katakan bahwa bahasa itu bisa karena terbiasa. Semenjak masuk kuliah aku sudah mulai jarang memakai bahasa Inggris seiring dengan tidak adanya mata kuliah bahasa Inggris. Ah, sepertinya aku tidak boleh berhenti belajar bahasa Inggris.
Aku yang tidak bisa menjawab pertanyaan dari Bunga pun bersiap-siap mengeluarkan jurus andalan. Baik, kuhela napas panjang, bibir kanan kucoba naikkan satu centimeter, kemudian bibir kiri juga aku naikkan satu centimeter dan bilang, “Hehe, mas lupa, coba yang bagian itu dilewati dulu”. Ternyata jurus ini cukup ampuh, Bunga menuruti perkataanku. Kegiatan belajar mengajar pun berjalan lagi sebagaiman mestinya. Memang benar jika ada orang yang bilang bahwa senyum adalah lengkungan yang meluruskan segalanya.
Sebenaranya malu sih tapi mau gimana lagi, namanya juga lupa. Parahnya lagi di kemudian hari aku bisanya ikut ngajar tiap hari Rabu, padahal tiap hari Rabu mata pelajaran yang dijadwalkan adalah bahasa Inggris. Meskipun aku masih punya jurus andalan jika saja kejadian seperti itu tadi terulang tapi tetap saja diri ini was was. Ya, tapi justru di sinilah seninya. Aku percaya bahwa mengajar adalah salah satu cara yang paling efektif untuk belajar.
Secara garis besar pembelajaran malam itu terasa cukup menyenangkan. Perlahan tapi pasti aku mulai dapat menyesuaikan diri dengan mereka. Semua seperti mengalir begitu saja dan terasa begitu menyenangkan. Sesekali kami bercanda sejenak dan tertawa bersama seolah kami sudah lama kenal. Ah, dunia anak memang selalu menyenangkan dan penuh keceriaan.
Waktu pun terus berjalan, tak terasa detik telah berganti menit, menit pun telah berganti jam. Sudah satu jam lamanya kegiatan belajar mengajar malam itu berjalan. Kami pun mengakhiri kegiatan belajar mengajar malam itu dengan kembali berdoa. Mereka pun berpamitan pulang satu per satu. Di momen yang singkat itu aku mencoba mengeluarkan jurus andalanku yang lain. Aku menyempatkan diri melakukan “toss” dengan mereka. Aku memang biasa melakukan ini kepada setiap anak yang aku temui. Bagiku “toss” merupakan salah satu cara yang paling ampuh untuk berkomunikasi dengan seorang anak. Lewat “toss” tersebut kita seolah sedang memberikan tanda kepada anak tersebut bahwa kita ini teman mereka. Meski hingga saat ini aku belum membaca teori ilmiahnya namun tetap saja hal tersebut masih saja aku lakukan.
Dengan “toss” terakhir dari anak kelima, berakhir pula tugasku malam itu untuk menemani mereka belajar. Meski tak berjalan terlalu mulus namun aku cukup puas. Perlu Anda ketahui bahwa tak semua volunteer dapat diterima dengan baik oleh anak-anak pada saat pertama kali bertemu. Aku terkadang menemukan ada anak-anak yang bilang, “Aku gak mau belajar sama mas ini atau mbak ini, aku maunya sama mas itu atau mbak itu”. Bukan karena tidak suka tapi hanya karena belum kenal. Tak perlu bersedih hati jika Anda mungkin mengalaminya sendiri di kemudian hari. Anda hanya perlu berjuang lebih keras dalam merebut hati si anak.
Semenjak insiden menjadi pengajar dadakan tersebut, aku secara rutin datang ke Taman Cerdas Mojosongo tiap hari Rabu malam. Semenjak itu pula aku selalu kedapatan jatah mengajar anak-anak kelas 5 SD. Dari sinilah benih cintaku dengan Solo Mengajar tumbuh subur. Benih yang sudah mulai bersemi semenjak pertama kali aku mengenal Solo Mengajar kini telah menghasilkan berbagai macam rasa. Kumpulan rasa yang kebahagiaan.menawarkan kebahagiaan di setiap irisannya.
Begitulah rasa yang aku rasakan ketika pertama kali mengajar bersama teman-teman Solo Mengajar. Kebersamaanku dengan Bunga dan kawan-kawannya tak berlangsung lama. Seiring dengan dibukanya kerjasama dengan Taman Cerdas Gandekan maka aku pun dipindahtugaskan ke Taman Cerdas Gandekan. Entah jodoh atau gimana di Taman Cerdas Gandekan pun aku kebagian jatah mengajar anak-anak kelas 5 SD. Bedanya, jika dulu ada Bunga dan kawan-kawan, kini ada Dhea dan kawan-kawan.

Senang rasanya andaikan suatu hari nanti bisa berjumpa dengan Bunga lagi. Entah besok, minggu depan, atau bahkan tahun depan. Ketika saat itu terjadi maka akan aku pastikan bahwa aku mengingat dengan baik bahasa Inggrinya pramugari. Tak kalah menyenangkan pula jika pada suatu hari nanti, ketika aku naik pesawat aku menemukan bahwa salah satu pramugarinya bernama Bunga. Bunga, murid kesayanganku di Taman Cerdas Mojosongo dulu yang kini telah menjadi pramugari.

Posted on 1:56:00 PM by Unknown

No comments

2/18/2015

Setelah Perjalanan Suci (Part 1: Senin Pertama) dan Perjalanan Suci (Part 2: Selasa Luar Biasa), kini saatnya menapaki jejak langkah berikutnya, yaitu Perjalanan Suci (Part 3: Akhir yang Romantis). Inilah jejaknya...
taman cerdas mojosongo solo mengajar
Kegiatan Belajar Mengajar saat Listrik Mati di TC Mojosongo

RABU, UNTUK YANG PERTAMA...
            Perjalanan suci pun berlanjut. Kususuri sebuah perkampungan dengan gang-gang yang terlihat sama. Layaknya sebuah maze yang siap menyesatkan siapapun yang masuk di dalamnya. Ku berjalan dengan penuh kehati-hatian berharap tiada pertanda yang terlewat.  Hingga akhirnya tibalah aku di sebuah tempat sumber keceriaan yang lain bernama TC Gambirsari.
            Terlihat olehku beberapa orang vols dan adik-adik yang sedang asyik bercengkrama satu dengan yang lainnya. Tanpa menunggu lama aku pun langsung bergabung dengan mereka. Turut bercengkrama bersama sambil menunggu kegiatan belajar mengajar dimulai.
            Detik demi detik terus berjalan. Kegiatan belajar mengajar sudah hampir dimulai namun baik vols maupun adik-adik yang datang malam itu tak sebanyak biasanya. Meski tak terucap, aku yakin setiap dari kami pasti berharap masih ada adik-adik maupun vols yang datang. Menunggu dan menunggu. Ah, ada yang datang! Mas Adit.
            Berjalan perlahan memasuki TC dengan kardus di tangan. Layaknya pemain teater yang muncul dari kegelapan dengan sorot lampu yang tak pernah sedetik pun menjauh darinya. Mendadak semua perhatian tertuju pada Mas Adit. Bukan karena orangnya tapi lebih dikarenakan kardus yang ia bawa. Adik-adik yang penasaran dengan isi kardus tersebut langsung menghampiri Mas Adit. Aku sendiri yang tak kalah penasaran tetap duduk manis di pendapa tanpa sedetik pun mengalihkan pandangan mata ini dari kardus tersebut. Mencoba menerka-nerka isi di dalamnya.
Dekat, dekat, dan semakin dekat. Isi kardus pun mulai terlihat. Satu set angklung! Ya, angklung. Sebuah alat musik tradisional khas Jawa Barat yang sejak kecil sangat ingin aku mainkan dan kini ada di depanku. Ah, akhirnya…(batinku).
            Tak lama berselang kegiatan belajar mengajar pun dimulai. Aku malam itu mendapatkan tugas kehormatan. Menjaga angklung tersebut dari jangkauan anak-anak yang sudah tidak sabar ingin segera memainkannya. Sungguh ini bukan tugas yang mudah karena aku sendiri juga tak sabar ingin segera memainkannya. Ingin rasanya segera mengeluarkan angklung tersebut dari dalam kardus dan memainkannya.
            Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, malam itu waktu seolah berjalan lebih lambat. Kegiatan belajar mengajar tak kunjung usai sedangkan tangan ini semakin gatal ingin segera mengeluarkan angklung tersebut dari dalam kardus.
            Dan…kegiatan belajar mengajar pun usai, saatnya bermain angklung! Aku yang sudah tidak sabar ingin memainkannya dengan berat hati harus memberikan kesempatan terlebih dahulu pada adik-adik.  Satu set angklung yang terdiri dari delapan buah ini kini sudah dipegang oleh delapan orang anak yang beruntung. Dengan dibantu oleh kakak-kakak vols mereka mencoba memainkan lagu Suwe Ora Jamu sebaik mungkin. Ada yang terlihat masih gagu dalam memainkan angklung namun ada pula yang nampak sudah terbiasa memainkannya.
            Memang belum terdengar lantunan melodi yang indah dari permainan mereka. Akan tetapi satu yang pasti. Terdengar melodi keceriaan dari setiap gemericik angklung yang mereka mainkan. Ah, lagi-lagi ujung bibir ini, kanan kiri naik 1 centimeter secara simetris dengan sendirinya.
            Setelah dirasa cukup, kini giliran kami kakak-kakak vols yang memamerkan keahliannya dalam memainkan angklung. Aku yang sudah dari tadi tidak sabar menunggu giliran turut berpartisipasi. Aku memegang angklung bernada fa. Dan usai sudah penantian panjangku., Rabu malam itu Ahmad Saifudin, 21 tahun lebih sekian bulan, pertama kali memainkan angklung. Haha, selamat selamat.
Meski malam itu pertama kali kami bermain bersama, namun hasilnya cukup bagus. Lagu suwe Ora Jamu dan Gundul-Gundul pacul yang kami mainkan cukup bisa dinikmati. Sepertinya kami cukup berbakat memainkan angklung. Ah, sungguh Rabu malam yang indah, penuh irama.


KAMIS, AKHIR YANG ROMANTIS
Lagi dan lagi. Gerimis romantis kembali mengiringi perjalanan suciku. Ah, sungguh awal dan akhir yang sama. Setting cerita malam itu semakin romantis dengan adanya oglangan alias listrik mati. Jadilah aku seperti pahlawan bertopeng dengan kuda hitamnya yang sedang bergegas menyelamatkan seorang gadis dari gangguan orang jahat. Aku menembus gelapnya jalanan di tengah rintik-rintik hujan dengan sepeda motorku menuju sumber keceriaan berikutnya. TC Mojosongo…aku datang!
            Setibanya di sana, listrik belum juga nyala meski hujan telah reda. Jadilah saat ini kami, kakak-kakak vols dan adik-adik seperti sekumpulan nyamuk yang berkumpul di kegelapan. Tak terlihat namun terdengar suaranya.
            Lantas, bagaimana dengan kegiatan belajar mengajar?
Jangan pernah kutuki kegelapan, nyalakan lilin harapan. Kurang lebih begitulah kata-kata yang sering didengungkan di Solo Mengajar. Membuat cahaya! Ya, itu yang kami lakukan. Bukan dengan lilin, kami tak punya. Bukan juga dengan lampu emergency, kami tak membawanya. Tapi kami punya ini…
Sepeda motor. Kami letakkan sepeda motor kami mengelilingi lapangan basket dengan sorot lampu menghadap ke tengah lapangan. Membuat tengah lapangan seketika menjadi panggung pertunjukan meski dengan cahaya yang temaram. Di antara sorot lampu itulah kami malam itu melakukan kegiatan belajar mengajar. Jadilah kami sekarang seperti sekawanan teroris yang sedang dikepung oleh satu pleton densus 88. Kami seolah menjadi pusat perhatian malam itu. Bercahaya di tengah gelapnya malam.
taman cerdas mojosongo solo mengajar
Kegiatan Belajar Mengajar saat Listrik Mati di TC Mojosongo
            Dinginnya udara tak mampu mengurangi kehangatan yang tercipta malam itu. Gelapnya malam bahkan tak sedikitpun mengurangi cerahnya senyum mereka malam itu. Semua tersenyum,  semua tertawa, semua bahagia. Sungguh malam yang romantis. Tak kalah romantis dengan pertemuan sepasang kekasih yang telah lama berpisah. Pertemuan ini, pertemuan antara guru dan murid yang saling merindu. Pertemuan yang terlalu sulit untuk dipisahkan oleh hujan dan gelap malam. Bagiku, itu sungguh romantis.

            Begitulah sekelumit cerita tentang perjalanan suciku. Ini bukanlah awal bukan pula akhir. Masih banyak cerita yang belum kubagikan, masih banyak cerita yang belum kualami. Cerita tentangku, tentang Solo Mengajar, tentang senyuman itu. Senyuman tulus mereka. Matahari kecil Indonesia. Sekali lagi, bahagia itu sungguh sederhana. Sesederhana ceritaku ini.

Posted on 1:27:00 PM by Unknown

No comments

2/12/2015


Setelah Perjalanan Suci (Part 1: Senin Pertama), kini saatnya menapaki jejak langkah dari Perjalanan Suci (Part 2: Selasa Luar Biasa). Inilah jejaknya..

taman cerdas sumber solo mengajar
Kartu Pintar
SELASA, SEMAKIN TERASA...
            Selasa sore, perjalanan suci ini kembali berlanjut. Kali ini giliran TC Sumber yang menjadi tujuanku. Satu yang selalu kuingat tentang TC Sumber adalah batu. Ya, batu. Begitu memasuki TC Sumber kita akan disambut dengan hamparan batu-batu hitam berbentuk bulat yang tersusun rapi di sepanjang jalan setapak. Sungguh anggun. Fungsinya sudah seperti red carpet ala Hollywood saja, menyambut setiap orang yang datang dengan kemewahannya. Itulah TC Sumber.
            Sore itu karena satu dan lain hal aku datang terlambat. Kegiatan belajar mengajar sudah dimulai begitu aku tiba di sana. Sebelum beranjak dari sepeda motor dan bergabung dengan vols yang ada, aku menyempatkan diri untuk sejenak mengamati keadaan di sana. Sekilas terlihat olehku sekelompok anak kelas 1 sampai 3 SD sedang bermain dengan kakak-kakak vols di taman, kemudian anak-anak yang lain sedang asyik belajar di pendapa. Samar-samar terdengar suara riuh rendah dari pendapa. Hal ini cukup menarik perhatianku,, ada apakah gerangan di sana?
            Dan….jreng jreng…jawabannya adalah….*hening sejenak
Kartu! Kulihat anak-anak sedang asyik bermain kartu. Iya…kartu. Eittzz…tapi bukan sembarang kartu. Kartu ini bernama kartu pintar. Kartu berukuran kecil, sekitar 4x6 cm dengan tulisan angka-angka yang berbeda di setiap lembarnya. Siapa sangka kartu sekecil ini dapat membuat suasana sore itu pecah, benar-benar pecah. Tak terasa ujung bibir ini mulai naik, kanan dan kiri satu centimeter secara simetris yang kemudian membentuk cekungan yang memberikan sebuah rasa tersendiri. Rasa yang tidak lain merupakan sebuah rasa bahagia melihat kelucuan dan antusiasme anak-anak memainkan kartu tersebut.
            Saat aku datang permainan kartu ini sudah hampir selesai. Di hadapanku tinggal tersisa dua orang anak yang sedang berusaha saling mengalahkan satu sama lain. Bagi keduanya seolah-olah ini adalah pertarungan hidup dan mati. Terlihat dari ekspresi mereka ketika akan memilih kartu yang akan mereka keluarkan. Seolah berharap bahwa itu merupakan angka keberuntungan mereka. Dan…suasana seketika pecah ketika keduanya mengeluarkan kartunya secara bersamaan.
56! 72! Seolah sedang terancam bahaya, mereka menggunakan seluruh sisa-sisa suara mereka untuk meneriakkan angka tersebut secepat mungkin. Angka yang mereka teriakkan tadi merupakan hasil perkalian dari dua angka yang terdapat pada kartu yang mereka keluarkan. Yang kalah cepat dalam menebak maka dia harus mengambil kartu temannya tersebut. Pemenangnya adalah dia yang paling cepat menghabiskan kartu yang ada di tangannya. Lucunya, terkadang dalam dua giliran keluar kartu yang sama namun mereka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menebak hasil perkaliannya bahkan sampai salah menebak. Hal ini sontak mengundang gelak tawa anak-anak lain dan kakak-kakak vols.
taman cerdas sumber solo mengajar
Serunya Kelas Berhitung Menggunakan Kartu Pintar
Ah, siapa sangka dengan kartu kecil tadi dapat menjadi media pembelajaran yang menyenangkan. Hal ini seolah mengingatkanku bahwa belajar dapat menggunakan media apa saja. Bahkan tak jarang hal itu merupakan sesuatu yang sering kita abaikan. Sekali lagi, inilah TC Sumber. Sumber keceriaan. Sumber kreativitas.

PERJALANAN PUN BERLANJUT...
                Masih di Selasa yang sama dengan cahaya yang berbeda. Kini cahaya matahari sudah digantikan oleh cahaya lampu. TC Gandekan yang merupakan rumah sendiri menjadi tujuan berikutnya. Kusebut rumah sendiri karena di sinilah aku ditempatkan selama lebih dari setahun ini sebagai vols Solo Mengajar. Satu kata yang menurutku paling menggambarkan TC Gandekan adalah merah. Bangunan yang memang didominasi warna merah ini seolah menyimpan energi lebih bagi siapapun yang memasukinya. Tak heran jika anak-anak di sini cukup atraktif.
            Bagiku tiada tempat yang lebih menyenangkan selain rumah sendiri. Begitu pula dengan TC Gandekan bila dibandingkan dengan TC lain. Meski  di sini aku harus menghadapi anak-anak yang super atraktif dengan segala tingkah laku mereka yang tak jarang membuatku mengelus dada. Namun sesuai dengan hukum Newton ketiga, aksi sama dengan reaksi, di sini aku mendapatkan modal yang sangat berharga untuk menghadapi mereka. Modal itu berupa volunteer super kece dengan “kegilaan” tingkat tingginya serta pengurus TC yang ternyata tak kalah “gilanya”. Ah, sungguh setimpal. Tuhan Maha Adil.
            Malam itu begitu aku datang, suara riuh rendah anak-anak langsung menyambutku. Beberapa orang anak terdengar memanggil-manggil namaku, “Mas Udin…”. Tak lama kemudian ada sekelompok anak kelas 1 dan 2 SD yang menghampiriku dan menggelayut manja sambil berusaha memegang jenggotku. Ya, jenggot. Jenggot yang kubiarkan tumbuh subur di daguku ini sejak dulu sudah menjadi magnet tersendiri bagi anak-anak, terutama kelas 1 dan 2 SD. Dan karena “akar nafas” alias jenggot inilah kemudian mereka memanggilku Mas Udin Jenggot yang kemudian disingkat Udje. Sebuah nama yang kemudian dipakai teman-teman vols Solo Mengajar untuk memanggilku. Semacam nama panggung gitu. Haha.
            Teeetttttt….teeeetttt….teeettttt. Bel telah berbunyi sebanyak tiga kali, kegiatan belajar mengajar sudah saatnya dimulai. Anak-anak pun mulai berlarian menuju ke kelasnya masing-masing. Kelas 1 dan 2 SD belajar di ruang perpustakaan, kelas 3 dan 4 SD belajar di ruang IT, sedangkan kelas 5 SD hingga SMP belajar di pendapa. Tak mau kalah dengan adik-adik, kami pun segera menempatkan diri sesuai dengan pembagian kelas yang telah disepakati sambil mengajak adik-adik yang masih asyik bermain. Aku sendiri malam itu mengajar murid langgananku, Dhea, dkk yang sekarang duduk di bangku kelas 6 SD.
            Selasa malam itu TC Gandekan lagi-lagi mengeluarkan magisnya dengan memberikan energi yang berlebih pada siapapun yang ada di dalamnya. Dengan energi yang berlebih ini kegiatan belajar mengajar menjadi lebih “meriah”. Beberapa anak yang kelebihan energi mencoba menggunakannya untuk berlarian dan mengusili teman-temannya yang sedang belajar. Hal ini membuat kami mau tidak mau harus menyerap energi yang diberikan oleh TC Gandekan sebanyak mungkin agar bisa mengimbangi mereka.
taman cerdas gandekan solo mengajar
Kelas 1 dan 2 Taman Cerdas Gandekan
            Ah, lagi-lagi teori relativitas Einstein bekerja di sini. Tak terasa kegiatan belajar telah berakhir dan segelas teh hangat telah menanti kami. Teh hangat yang selalu setia menemani obrolan kami pasca mengajar. Teh hangat yang di kemudian hari pasti akan sangat kurindukan. Bukan karena rasanya namun karena kebersamaan yang ditawarkan dalam setiap tegukannya.

            Malam itu kami seolah enggan untuk cepat-cepat meninggalkan TC Gandekan. Kami masih saja asyik mengobrol meskipun waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Sepertinya pantat ini terlanjur mengakar begitu dalam sehingga sulit sekali untuk diangkat. Namun, rumah ini bukanlah tujuan akhir dari perjalanan kami sehingga kami pun harus pergi melanjutkan perjalanan masing-masing. Sampai berjumpa lagi kawan. Di TC Gandekan, di rumah kami.

Jejak langkah berikutnya, Perjalanan Suci (Part 3: Akhir Sempurna)

Posted on 1:17:00 PM by Unknown

No comments

2/09/2015

Sungguh, bahagia itu sederhana. Sesederhana sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Sesederhana hujan yang turun di musim penghujan. Ya, sesederhana itu. Bagiku, bahagia pun sesederhana itu. Melihat orang lain tersenyum merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku, terutama senyum anak-anak. Senyum yang begitu tulus dan miskin akan kepura-puraan. Aku sendiri telah menemukan tempat dimana sumber kebahagian itu berada. Tempat itu bernama Taman Cerdas. Tempat dimana aku bisa menemukan sekumpulan anak dengan senyum tulusnya.
Singkat cerita, aku sering menyempatkan waktu barang sejenak di sela-sela kesibukanku sebagai mahasiswa tingkat akhir untuk berkunjung ke Taman-Taman Cerdas (TC) yang ada di Kota Solo. Enggak sibuk-sibuk banget sih…lebih tepatnya “pengacara”, pengangguran banyak acara. Haha. Namanya juga mahasiswa tingkat akhir. Hm…sebut saja mahasisa.
Dalam kesempatan ini aku ingin berbagi cerita tentang perjalanan “suciku” (suka citaku). Perjalanan ini aku lakukan selama 4 hari berturut-turut. Empat hari 5 Taman Cerdas, berlapis-lapis senyuman, segudang kebahagiaan.

Solo Mengajar
Perjalana Suci
SEMUA BERMULA DI HARI SENIN...
            Senin malam, gerimis romantis mengiringi perjalanan suciku ke Barat untuk mencari kitab suci. Eh, maksudku ke TC Pajang. Kusebut perjalanan ke Barat karena memang tempat ini berada di ujung Barat Kota Solo sedangkan domisiliku di ujung Timur Kota Solo.
            Pajang. Setiap kali mendengar nama tersebut pikiran ini selalu saja melayang jauh ke belakang. Jauh sebelum uang kertas bergambar monyet dan perahu layar digunakan. Jauh sebelum Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Hingga akhirnya sampailah ke masa kejayaan kerajaan-kerajaan nusantara di mana Kerajaan Pajang menjadi salah satu aktornya. Ah, kok jadi malah bicara tentang sejarah.
            Baik, kembali ke tahun 2014 di mana perjalanan suci ini terjadi. Malam itu aku menjadi vols pertama yang tiba di TC Pajang. Pintu perpustakaan yang biasa digunakan sebagai tempat pembelajaran masih terkunci rapat. Meskipun demikian di pendapa sudah banyak anak-anak yang asyik bermain atau sekedar bercanda dengan teman sebayanya. Sambil menunggu vols lain datang, aku sibuk mengamati tingkah polah mereka. Entah mengapa diri ini saat itu rasanya ingin mengamati saja apa yang mereka lakukan dari kejauhan. Melihat mereka berlari-lari, bersendau gurau, dan tentu saja tersenyum riang. Meski sempat ada insiden ada anak yang menangis tapi itu tetap tidak mengurangi keceriaan mereka. Ah, bahagianya.
            Tak terasa  vols lain mulai berdatangan dan pembelajaran segera dimulai. Hujan dan jarak TC Pajang yang cukup jauh turut memberi andil pada sedikitnya vols yang datang malam itu. Alhasil, aku yang berniat menjadi pengamat pun beralih profesi menjadi pengajar. Kini, di depanku sudah ada 4 orang anak kelas 5 SD yang siap kuracuni dengan rumus-rumus matematika. Haha. Tenang, pembelajaran berlangsung dengan menyenangkan kok.
            Memang benar kata Einstein dengan teori relativitasnya. Segala kebahagiaan yang membuncah jadi satu malam itu telah mereduksi waktu satu jam menjadi seolah hanya satu menit. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam dan kegiatan belajar mengajar harus diakhiri. Segelas teh hangat dan makanan ringan sudah menanti kami di ruang perpustakan. Terima kasih Bu Evi, penjaga perpustakaan TC Pajang yang selalu setia mendampingi kami bahkan menyediakan “logistik” bagi kami. Kami pun berbincang-bincang sejenak sambil menikmati hidangan yang telah disajikan sebelum beranjak pulang. Seperti halnya ketika aku datang, gerimis romantis kembali mengiringi kepulanganku malam itu.

Posted on 12:12:00 PM by Unknown

No comments