Showing posts with label goresan. Show all posts
Showing posts with label goresan. Show all posts

9/16/2015

Ini adalah kisah antara sepasang sandal dengan tuannya. Yang kusebut Aku di sini adalah seorang tuan pemilik sepasang sandal. Dan yang kusebut Dia di sini adalah sepasang sandal kepunyaan si tuan. Aku dan Dia saling membutuhkan satu sama lain. Aku membutuhkan Dia sebagai teman untuk meniti panas dinginnya jalanan, sedangkan Dia jauh lebih membutuhkan Aku ketimbang Aku membutuhkan Dia. Apalah arti Dia tanpa seorang Aku. Dia takkan pernah berarti keberadaannya di dunia ini tanpa adanya Aku.

Aku dan Dia selalu bersama, panas, dingin, landai, terjalnya jalanan telah mereka lalui bersama. Tak terhitung lagi berapa banyak tempat yang mereka kunjungi bersama. Puluhan? Ratusan? Sepertinya lebih. Bukan jumlah yang menjadi perhatian keduanya, tetapi kualitas dari setiap perjalanan lah yang menjadi perhatian keduanya.

Sebut saja kenangan. Dari setiap langkah yang terantuk batu, dari setiap langkah yang basah oleh hujan, dari setiap langkah yang berdebu, serta dari langkah-langkah yang lain. Itulah langkah-langkah yang membentuk kenangan.

Aku selalu berharap Dia dapat terus menemaninya. Tapi, itu hanya sebuah harapan. Pada akhirnya selalu ada lelah yang menanti di akhir sebuah perjalanan panjang. Ada tempat peristirahatan yang dirindukan di setiap keberangkatan. Untuk Aku dan untuk Dia.

Aku sadar bahwa masanya berbeda dengan Dia. Masa Aku lebih panjang dari pada Dia. Aku ditakdirkan untuk berganti dengan Dia-Dia yang lain di sepanjang perjalanan. Berbeda dengan Dia yang ditakdirkan hanya untuk seorang Aku, kecuali takdir berkehendak lain.

Cepat atau lambat, masa itu akan segera tiba. Masa ketika Dia tak lagi bisa membersamai Aku. Masa ketika Aku dan Dia berpisah untuk selang masa yang tidak diketahui, baik oleh Aku maupun Dia.

Yang namanya kenangan pasti akan kembali. Cepat atau lambat. Begitupun dengan kenangan Aku tentang Dia. Pada masanya nanti Dia akan kembali mendatangi Aku beserta kenangan yang telah mereka lalui bersama.

Dia dengan runtut dan pelan akan bercerita tentang setiap perjalanan yang mereka lalui bersama. Baik itu jalan yang lurus tak berujung maupun jalan yang berkelok membingungkan. Baik jalan yang ramai oleh hiruk pikuk kehidupan maupun jalan yang sunyi dan sepi. Semua akan Dia ceritakan.

Bisa jadi, Aku akan senang dengan semua kenangan yang Dia ceritakan, hingga Aku tak kuasa lagi untuk membendung senyumnya. Bisa jadi, Aku merasa tak ingin mendengar sedikitpun tentang setiap kenangan yang Dia ceritakan kembali, hingga Aku tak kuasa lagi menahan tangisnya.

Begitulah kisah antara sepasang sandal dan tuannya. Kisah antara Aku yang punya kuasa atas Dia, serta kisah tentang Dia yang setia menemani aku dengan penuh penerimaan.

Posted on 2:20:00 PM by Unknown

No comments

8/17/2015

Jakarta, Agustus 2015
Sore itu conversation class terasa lebih hidup dari pada biasanya. Tami yang memang paling fasih bahasa Inggrisnya terlihat antusias dengan topik pembicaraan yang diangkat oleh Mike.
Mike    : “I don’t believe it. Aku tidak percaya jika Amerika tidak tahu tentang rencana penyerangan Pearl Harbour. Dengan teknologi kami miliki saat itu Amerika pasti tahu jika Jepang hendak menyerang. Semua itu disengaja. Sama halnya dengan peristiwa 11 September.”
Tami    : “O iya? Apa yang membuatmu yakin Mike?”
Mike    : “You know? Aku lahir dan besar di Amerika. Aku telah berkali-kali mendiskusikan hal ini dengan teman-temanku di sana. Dan menurutku banyak sekali fakta sejarah tentang Amerika yang tidak kalian ketahui. Hm..Pada akhirnya siapa yang berkuasa dia yang menulis sejarah. Right?”
Tami    : “Absolutely right. Hal seperti itu juga terjadi di Indonesia. Banyak sekali fakta sejarah yang ditutupi demi kebaikan pemerintah yang berkuasa.”
Mike    : “Well, itu terjadi di belahan dunia manapun.”
Tami    : “By the way Mike, turut sertanya Amerika dalam perang dunia 2 aku kira patut disyukuri.”
Mike    : “Mengapa kamu bisa bicara seperti itu? Banyak warga Amerika yang mati konyol karena hal itu.”
Tami    : “Terlepas dari siapapun yang menang pada perang dunia 2. Bukankah dengan turut sertanya Amerika dalam perang dunia 2 membawa angin segar bahwa perang yang telah terjadi selama beberapa terakhir itu akan segera berakhir? Perbedaan kekuatan menjadi semakin keliatan Mike. Sekutu di atas angin.”
*bersambung*

Solo, Agustus 2015
Tak ada hari-hari yang lebih melelahkan bagi Adi selama hidupnya selain hari-hari yang saat ini ia jalani. Pagi-pagi berangkat ke laboratorium, dilanjutkan dengan konsultasi dengan dosen, dan kemudian masih harus mengurusi organisasi yang memang telah menjadi dunianya selama ini. Sore itu seperti hari-hari sebelumnya dia pulang ke kosan sebentar untuk kemudian berngkat menghadiri acara organisasi yang ia ikuti.
Deni    : “Di, tumben jam segini kamu udah pulang. Biasanya aja malam baru pulang. Numpang tidur doang di kosan.”
Andi    : “Habis ini pergi lagi kok. Tenang, aku gak akan mengganggumu dengan segala khalayanmu.”
Deni    : “Sial. Ini semua tentang seni Di. Tuntutan profesi.”
Andi    : “Iya, silahkan dilanjutkan saja senimu itu. Cuma inget jangan disalahgunakan ya?”
Deni    : “Disalahgunakan gimana Di?”
Andi    : “Kamu kira aku ga tau tentang hubungan kamu dengan Ratna? Tentang tumpukan kertas di tong sampah yang berisi puisi untuknya? Tentang diorama-diorama yang kamu buat untuknya? Sudahlah Den, nikahi saja si Ratna. Jangan cuma kamu kasih janji-janji manis. Kasih dia janji suci. Itu yang bener Den.”
Deni    : (mukanya mulai memerah) “Eh, kamu tau dari mana? Kamu kira nikah gampang apa?
Andi    : “Ada deh. (Sambil berlari kecil keluar dan mulai menaiki sepeda motro) Gampang kok, tinggal kamu mau berusaha apa enggak? Udah ya, aku berangkat dulu. Assalamualaikum.”
Deni    : “Eee...malah kabur. Waalaikumsalam.”

Desa Mekarsari, Agustus 2015
Kayuhan yang keseribu sekian telah mengantarkan Pak Karyo dengan sepeda onthelnya sampai ke rumah sebelum petang menjelang. Istrinya telah menyambutnya dengan segelas kopi panas dan sepiring pisang goreng yang sangat disukainya.
Bu Karyo        : “Ini pak kopi dan pisang goreng kesukaan bapak. Mumpung masih panas, silahkan dimakan pak. Biar capeknya segera ilang.”
Pak Karyo       : “Suwun ya bu. Ibu ini emang istri bapak yang paling pengertian.”
Bu Karyo        : “Ah, bapak ini bisa aja. Lha wong istri bapak cuma ibu seorang, ya jelas lah ibu yang paling pengertian.”
Pak Karyo       : “Haha, bener kan apa yang bapak bilang.”
Bu Karyo        : “Bapak ini mah sukanya nggombalin ibu. Ngomong-ngomong pak, sawah kita gimana?”
Pak Karyo       : “Kan gara-gara bapak gombalin juga ibu jadi mau sama bapak. Haha. Alhamdulillah bu, insyaAllah tahun ini hasilnya akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Ndonga wae bu marang Gusti sing menehi urip.”
Bu Karyo        : “Iyo pak. Ra pernah awak iki lali ndonga marang Gusti. Opo wae hasile mengko ibu bakal trimo pak. Berarti emang segitu jatah rejeki buat kita. lak yo ngono to pak?”
 Pak Karyo      : “Bener bu. Ah ibu ini, bener-bener istri bapak yang paliiiinnng pinter. Bapak jadi makin sayang sama ibu.”
Bu Karyo        : “Ih, bapak (sambil nyubit). Bentar ya pak, ibu ke dapur dulu. Nasinya kayaknya sudah matang tuh.”

Jakarta, Agustus 2015
Mike    : “Aku tidak sepenuhnya setuju dengan apa yang kamu katakan. Yang jelas tanpa Jepang menyerang Pearl Harbour pun Amerika tetap akan terlibat dalam Perang Dunia 2. Penyerangan Pearl Harbour hanya alasan penguat saja.”
Tami    : “Kamu sepertinya terlalu banyak mempelajari teori konspirasi Mike. Baiklah Mike, aku akan bercerita sedikit tentang negriku kala Perang Dunia 2 berkecamuk di Pasifik.”
Mike    : “Silahkan. Aku akan sangat senang mendengarnya.”
Tami    : “Kamu tahu Mike? Pasca peristiwa Pearl Harbour dan Amerika kemudian secara terbuka turut serta dalam Perang Dunia 2, Jepang mulai menderita kekalahan di Pasifik dan puncaknya adalah ketika Amerika dengan kejinya menjatuhkan bom nuklir ke Hiroshima dan Nagasaki. Tidak ada pilihan lain bagi Jepang selain menyerah tanpa syarat pada sekutu.”
Mike    : “Yeah, aku tahu itu. Sekolah kami mengajarkan hal itu semua”
Tami    : “Apakah kamu tahu Mike? Jepang waktu itu sedang menjajah bangsaku. Kekalahan Jepang merupakan angin segar bagi kami yang saat itu tengah memperjuangkan kemerdekaan kami. Kemerdekaan yang telah dirampas bangsa lain dari kami selama lebih dari 3 abad Mike. 3 abad!”
Mike    : “Oh my god. Itu waktu yang sangat lama. Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
Tami    : “Banyak hal telah terjadi di masa lalu Mike. Yang jelas, selang beberapa hari setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu, kami bangsa Indonesia akhirnya mendapatkan kemerdekaan kami.”
Mike    : “Cerita yang sangat menarik Tam. Aku sangat ingin mendengar kelanjutannya, tapi sayang sekali aku sudah janji setelah ini. Jadi mari kita lanjutkan pembicaraan ini di lain kesempatan.”

Tami    : “Baiklah Mike, kapanpun kamu mau, aku dengan senang hati akan menceritkannya padamu.”

Posted on 12:43:00 PM by Unknown

No comments

5/01/2015

Malam ini adalah malam terakhir Bulan April. Seperti tahun-tahun sebelumnya, stasiun televisi lokal maupun nasional mulai ramai menyiarkan tentang perayaan Hari Buruh yang jatuh pada esok hari, 1 Mei 2015. May day, begitulah nama kerennya. Hari di mana para buruh “merayakan” status mereka sebagai seorang buruh. Hari di mana buruh dari berbagai organisasi turun ke jalan dan menyuarakan aspirasi mereka. Yang sebenarnya hampir selalu saja sama dari tahun ke tahun. Menuntut peningkatan taraf hidup! Baik itu melalu kenaikan upah minimum hingga pemberian jaminan kesehatan. Selalu saja sama, tak pernah jauh dari itu.
            Sekali lagi, malam ini adalah malam terakhir Bulan April. Seperti tahun-tahun sebelumnya, malam ini kami masih mencoba meluruskan punggung kami setelah seharian membungkuk di sawah, menanam padi. Sambil berdoa pada Tuhan semoga kami diberi kesehatan hingga masa tanam ini usai. Ya, masa tanam masih tersisa beberapa minggu, kami harap kami dapat mengais rizki selama masa itu. Karena setelah ini kami segera memasuki masa libur sebelum kembali ke sawah untuk melakukan tambal sulam terhadap padi yang kami tanam. Esok hari pun demikian, 1 Mei 2015. Kami masih harus ke sawah dan membungkukkan badan kami sambil berjalan mundur untuk menanam padi di sawah. Kami bukanlah petani, kami ini hanyalah buruh tani.
buruh tani
Menanam Padi
            Sayup-sayup terdengar berita di televisi yang menyebutkan bahwa esok hari ada sekitar 75 ribu yang akan turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka. Hm, sepertinya esok hari Jakarta akan menjadi lautan manusia, seperti tahun-tahun sebelumya. Sepertinya juga, semenjak pemerintah “berbaik hati” kepada buruh dengan menetapkan 1 Mei sebagi hari libur nasional sejak 2014 lalu jumlah buruh yang turun ke jalan semakin banyak. Ya, sepertinya...ingatan kami tak begitu bagus. Kami lebih fasih dalam mengingat umur padi yang kami tanam ataupun mengingat setiap langkah mundur yang kami lakukan saat membungkuk.

Mayday, Mayday! Tolong Lihat Kami, Si Buruh Tani
            Jika esok hari para buruh di Jakarta mendongakkan kepala mereka sambil menyuarakan suara mereka yang tak jarang diiringi dengan makian, maka apadaya kami yang hanya buruh tani. Kami hanya bisa membungkuk di hadapan tuan tanah kami. Kami tak sedikitpun berani mengeluarkan makian saat membungkuk. Kami sedang menanam padi, menanam kebaikan. Kami percaya kami hanya bisa memanen padi yang baik jika dan hanya jika kami menanamnya dengan baik pula. Begitulah yang diajarkan oleh nenek moyang kami secara turun temurun. Kami lebih banyak diam selama membungkuk, sedikit bicara agar pekerjaan kami segera selesai. Siapa pula yang suka membungkuk berlama-lama. Apalagi kebanyakan dari kami sudah berumur.

Mayday, Mayday! Tolong Lihat Kami, Si Buruh Tani
            Jika esok hari para buruh di Jakarta bisa dengan lantang berteriak minta kenaikan upah minimum, maka kami hanya bisa berbisik kepada sesama kami. Mengeluhkan upah kami yang sukar sekali naik, dari dulu segitu-gitu saja. Sekali lagi kami hanya bisa berbisik kepada sesama kami, mengeluhkan pengeluaran yang kini semakin tak menentu. BBM kini tak lagi disubsidi, harga bahan pokok pun naik turun seenak jidat. Jika boleh meminta kepada pemerintah, maka kami ingin minta satu hal, kepastian. Hidup kami sudah cukup tidak pasti dengan jumlah uang yang masuk jangan tambah ketidakpastian kami dengan jumlah uang yang keluar.

Mayday, Mayday! Tolong Lihat Kami, Si Buruh Tani
            Jika esok hari para buruh di Jakarta menenteng spanduk minta jaminan kesehatan, maka kami hanya bisa menulis keinginan kami di atas air sawah yang keruh. Kami ingin sebuah jaminan akan nasib sawah yang kami sayangi. Kami memang tidak pernah memilikinya tapi pecayalah kami begitu mencintainya. Tak terhitung lagi berapa lama waktu yang kami habiskan bersamanya. Sawah bagi kami tak hanya sumber kehidupan tapi sudah seperti kekasih yang selalu ingin kami kunjungi. Kekasih yang selalu kami kunjungi dengan membungkuk.
            Kami sedih, melihat sawah-sawah kini banyak yang beralih fungsi menjadi bangunan tak bernyawa. Kami takut kami tak lagi bisa membungkuk. Kami takut kini kami harus mendongak seraya berdoa, ya Tuhan kami apakah Engkau hendak menutup pintu rizki kami? Sungguh, kami yakin bukanlah demikian. Kami yakin Engkau hanya akan membukakan kami pintu rizki yang lain bagi kami. Meski kami tidak tahu apa itu, tapi kami yakin. Pada akhirnya, kami hanyalah buruh tani.

Mayday, Mayday! Tolong Lihat Kami, Si Buruh Tani
            Percayalah! Kami masih rela bangun di pagi hari dan bersaing dengan suara kokok ayam. Kami masih rela mengayuh sepeda puluhan kilometer menuju tempat kerja kami. Meski tak jarang dari kami yang sudah menggunakan sepeda motor tapi tak sedikitpun dari kami yang iri. Kami masih rela membungkuk dari pagi hingga siang sambil berjalan mundur kala musim tanam tiba. Kami masih rela melakukan hal yang sama, membungkuk lagi kala sudah saatnya padi yang kami tanam disulam. Kami masih rela membungkuk sekali lagi untuk mencabut rumput-rumput liar di sekitar padi yang kami tanam. Kami masih rela membungkuk untuk kesekian kalinya kala memotong padi yang sudah siap panem. Dan kami pun masih rela membungkuk untuk musim tanam berikutnya, lagi-lagi demi sesuap nasi.
buruh tani
Mengangkut Hasil Panen
             Pada akhirnya, kami hanyalah buruh tani. Bagi kami Mayday bukan berarti hari buruh. Mayday kami sama dengan mayday yang diteriakkan seorang pilot kala pesawat yang dikemudikannya hendak jatuh. Bagi kami Mayday berarti sebuah permintaan tolong. Ya, tolong lihat kami, si buruh tani.

Posted on 12:02:00 AM by Unknown

No comments

4/23/2015

Mawar merah
Rose
Perkenalkan, namaku Rose. Begitulah aku biasa dipanggil dan begitu pula nama lengkapku. Ya, namaku hanya Rose. Satu kata, 4 huruf. Tak kurang dan tak lebih. Aku ingatkan, jangan pernah kalian mengejekkuku karena namaku. Kalian boleh mengejekku karena kejelekan rupaku atau karena ketidakmampuanku akan berbagai hal, tapi tidak untuk namaku. Nama ini adalah satu-satunya peninggalan dari Almarhumah ibuku. Takkan kubiarkan siapapun menertawakannya.
            Aku ulangi sekali lagi, namaku Rose. Aku dilahirkan pada masa peralihan antara musim kemarau menuju musim penghujan. Kala pohon-pohon mulai bersemi. Kala burung-burung berkicau riang menyambut turunnya berkah dari langit. Kala hanya ada satu bunga mawar yang mekar di pekarangan rumah. Kesendirian mawar itulah yang menjadikannya pusat perhatian dan begitu dijaga oleh kedua orang tuaku yang memang pecinta bunga. Hingga akhirnya aku lahir menyapa dunia dan dinamai Rose. Mawar satu-satunya keluargaku. Mawar yang menjadi pusat perhatian dan akan selalu dijaga.
Baik, mari hentikan pembicaraan tentang nama. Aku takut aku tidak dapat menahan segala rasa yang telah lama kusimpan rapat-rapat untuk diriku sendiri.
Singkat cerita, kini aku sudah besar. Aku telah berumur 23 tahun. Umur yang mulai bisa disebut dewasa untuk ukuran seorang perempuan. Umur di mana seorang perempuan mulai sering ditanya tentang jalan hidup yang ia pilih. Jalan hidup yang selalu saja dipertanyakan setiap orang meskipun aku sudah memilih dan aku sendiri yang akan menjalaninya. Namun tetap saja pertanyaan yang berisi keraguan tentang apa yang aku pilih selalu saja muncul. Mengapa pilih ini lah, mengapa pilih itu lah, dan saudara mengapa mengapa yang lain selalu saja bermunculan. Seolah apapun yang aku pilih salah di mata mereka. Plis, mengapa tidak kalian berhenti melemparkan kata mengapa padaku? Aku benci dengan kata itu. Aku bukanlah orang yang kuat yang bisa terus berdiri dihujani kata mengapa. Jadi kumohon berhentilah mempertanyakan segala keputusanku.
Dari sekian pertanyaan mengapa yang paling sering muncul adalah mengapa di usiaku yang sudah menginjak 23 tahun ini aku belum juga menunjukkan keinginan untuk menikah. Ya, aku memang belum ingin menikah dalam waktu dekat ini. Bukan karena aku tidak ingin apalagi karena tidak ada lelaki yang tertarik padaku. Percayalah, sudah ada beberapa lelaki yang mencoba mendekatiku. Mencoba menawarkan janji-janji palsu mereka yang hanya aku anggap sebagai angin lalu. Untuk saat ini, aku hanya masih ingin bebas. Aku hanya ingin bermesraan dengan diriku sendiri. Sebelum kelak aku menjadi seorang istri. Dan jika waktu itu tiba, percayalah aku rela mengorbankan setiap kebebasanku dan hidup di bawah ketiak suami.
Jika kalian tidak pernah merasakan rasanya menjadi anak rumahan sepanjang hidup, maka jangan sekali-kali kalian mempertanyakan keputusanku itu. Kalian harus tahu, aku bosan. Aku bosan terus menerus menjadi mawar yang terkurung di pekarangan rumah. Yang hanya bisa melihat iri pada kupu-kupu yang bisa terbang bebas sesuka hatinya. Aku sangat ingin sekali keluar. Merasakan matahari pagi dari puncak gunung, menikmati indahnya senja di bibir pantai, aku ingin menikmati suka duka hidup sendiri.
Aku ingin kerja di luar kota, jauh dari sanak famili. Aku ingin merasakan nikmatnya menikmati hasil jerih payah sendiri. Menikmati setiap jatuh bangun yang aku yakin akan membuatku semakin kuat dalam menghadapi hidup. Aku sampai saat ini aku tidak sekalipun menyesali pilihan yang telah aku pilih. Meski sudah setahun lebih semenjak aku lulus dan menjadi seorang sarjana namun aku belum juga mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan. Aku, yang dulu di elu-elukan sebagai harapan bangsa ketika masih menjadi mahasiswa, kini hanya menjadi beban bangsa. Kini, aku menjadi bagian dari sekian juta penggangguran yang ada di negri ini. Dan dengan titel sarjana yang aku sandang bebanku sebagai pengangguran semakin berat. Memang benar kata orang-orang, bahwa menjadi sarjana bukanlah sebuah jaminan untuk mendapatkan hidup yang lebih mudah.
Aku memang belum mendapatkan pekerjaan tapi bukan berarti aku cuma berdiam diri saja selama setahun ini. Aku terus bergerilya dari satu kota ke kota yang lain untuk mendapatkan pekerjaan yang layak buatku. Aku memang orangnya suka pilih-pilih. Aku enggan jika harus bekerja di sembarang tempat, apalagi tidak sesuai dengan bidangku. Aku tidak ingin menghabiskan waktu kebebasanku yang aku pikir tidak akan lama ini hanya untuk bekerja di tempat yang tidak aku senangi. Aku ingin bekerja dengan sepenuh jiwa bukan karena keterpaksaan. Selama aku masih bisa memilih maka aku lebih baik memilih.
Aku ingin sedikit bercerita tentang sedikit usahaku dalam mendapatkan pekerjaan. Pernah suatu ketika sekitar jam 9 malam aku mendapatkan panggilan tes kerja dari sebuah perusahaan di Surabaya. Padahal aku waktu itu masih dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta ke Solo dan besok pagi harus sudah berada di Surabaya. Aku bingung. Ini sudah malam dan jika ingin ikut tes maka kau harus berangkat malam ini juga. Aku ini seorang perempuan. Apa kata orang jika aku keluar malam-malam begini. Pasti akan semakin banyak kata mengapa yang akan menghampiriku. Aku juga tidak mungkin mengajak ayahku yang sudah tua dan harus bekerja esok hari.
Aku pun akhirnya mencoba peruntungan dengan mengajak teman dekatku, Cinta namanya. Aku sebenarnya tidak terlalu berharap banyak selain karena sudah malam, Solo-Surabaya bukanlah jarak yang dekat. Tapi ternyata Tuhan sedang berbaik hati. Cinta mau menemani perjalananku. Dan dengan restu dari ayahku, kami berdua pun berangkat ke Surabaya tengah malam itu juga.
Aku memang belum tahu hasil dari tes kerja ku yang di Surabaya itu. Tapi aku sangat berharap aku bisa diterima sehingga aku dapat mengakhiri pencarianku. Aku mulai lelah. Sudah terlalu banyak pertanyaan mengapa yang menghampiriku. Aku ingin segera mengakhirinya dan mengusir jauh-jauh pertanyaan-pertanyaan itu dari kehidupanku.

Baik, sepertinya aku harus menyudahi cerita ini sampai di sini dulu. Aku harus segera pergi ke Semarang. Lain kali mari kita lanjutkan.

Posted on 9:05:00 AM by Unknown

No comments

3/20/2015

tinta putih udin jenggot
Catatan Terakhir Acil
Bukankah setiap pertemuan itu menjanjikan perpisahan? Bukankah perpisahan adalah hak setiap pertemuan? Yang pasti akan diminta, cepat atau lambat? Meskipun sudah pasti, kenapa tetap saja perpisahan itu terasa menyedihkan. Seolah perpisahan itu jauh. Seolah perpisahan itu dapat dihindari. Seolah perpisahan itu tak pernah ada. Atau jangan-jangan aku saja yang tak pernah mengganggap bahwa perpisahan itu ada. Tak pernah menyiapkan diri menghadapi perpisahan. Terlena dengan hegemoni pertemuan yang seolah tak berujung.
Kini, perpisahan perlahan tapi pasti mulai menghampiriku. Diam-diam mengintip dari balik pepohonan. Berusaha menyamarkan baunya dengan bau angin. Seolah tak ingin membangunkanku dari hegemoni pertemuan. Membiarkan diriku secara perlahan menyadari kehadirannya. Setiap detik yang berlalu perpisahan semakin dekat dan semakin dekat. Aku tak tahu kapan perpisahan itu akan tiba tepat di depanku dan menyapaku.
Aku belum bisa menerima kehadirannya. Aku pun berusaha menjauh darinya. Namun semua itu terasa percuma. Setiap aku menjauh selangkah, perpisahan mendekatiku dua langkah. Setiap aku berteriak padanya agar Ia pergi, Ia hanya tersenyum padaku dan tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Aku frustasi. Keadaan ini begitu menyiksaku. Aku kutuki Ia dengan segala sumoah serapah yang ku tahu. Bahkan, pertemuan pun turut kujadikan pelampiasan dari kekesalanku. Kenapa harus ada pertemuan jika pada akhirnya harus ada perpisahan? Kenapa? jawab!!
Detik demi detik berlalu dan berganti menit. Menit demi menit pun berlalu dan berganti dengan jam. Jam demi jam pun berlalu dan berganti dengan hari. Keadaan ini tak kunjung membaik. Aku masih saja belum bisa menerima kehadiran perpisahan. Hingga akhirnya perpisahan sudah ada di depanku. Hanya berjarak sehasta dari tempatku berdiri. Menyadari bahwa aku tak bisa menghindarinya, aku pun akhirnya meminta perpisahan berbaik hati padaku. Memintanya berjalan pelan dan membiarkanku menulis catatan terakhirku untuk saudaraku terkasih. Ternyata perpisahan tak seburuk yang aku kira. Ia mau berbaik hati dan membiarkan diriku menuliskan catatan terakhirku sebelum akhirnya membawaku pergi. Aku pun mulai menulis.

Teruntuk saudaraku terkasih,
Ahmad Saifudin

            Wahai saudaraku, masih ingatkah kamu saat pertama kali kita bertemu? Saat engkau hanya bisa tertegun melihatku. Saat wajah polosmu itu bersitatap dengan aku yang lusuh dan kumal ini. Ya, itulah aku yang dulu. Aku saat pertama kali kita bertemu. Sebelum kamu banyak mengubahku.
Kau mungkin dulu berpikir, bisa-bisanya ada orang yang bermuka mirip denganmu. Bahkan bisa dikatakan kita sama dalam hal apapun. Selera kita sama, wajah kita sama, makanan kesukaan kita pun sama. Hanya satu yang nampak berbeda antara aku dan kamu kala itu. Yaitu tampilan kita. Aku yang waktu itu adalah aku yang lusuh dan kumal. Sedangkan kamu adalah kamu yang tampil bak bangsawan dari negeri dongeng yang begitu mempesona.
Saudaraku, meski kita dari dunia yang berbeda, Itu tak sedikitpun menghalangi kita untuk bersama. Tak terhitung lagi berapa banyak langkah kaki yang kita ayunkan bersama. Tak terhitung lagi berapa banyak kenangan yang terhimpun di kepala, baik suka maupun duka. Kita telah lalui semua itu bersama. Hanya aku dan kamu.
Saudaraku, dari hari ke hari kita pun kini makin mirip satu sama lain. Aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Aku bukan lagi anak yang lusuh dan kumal dan kamu bukan lagi bangsawan dari negeri dongeng. Kita telah bertemu di titik pertengahan, titik yang sama,yaitu kita. Kita yang kini merupakan seorang petualang. Kita yang tak lagi terikat oleh latar belakang masing-masing. Maka, hilanglah aku dan hilanglah kamu. Sebut saja kita.
Saudaraku, ingin rasanya aku terus bersamamu dan menjadi kita. Hanya saja perpisahan kini telah ada di depanku. Hanya berjarak kurang dari sehasta dariku. Mau tidak mau, suka tidak suka Ia akan membawaku meninggalkanmu, saudaraku.
Saudaraku, percayalah. Tak sekalipun aku menyesali pertemuan kita. Aku bersyukur pernah bertemu denganmu. Kamu yang begitu berarti bagiku. Kamu yang telah banyak mengubahku.
Saudaraku, waktuku tidak banyak lagi. Kini perpisahan telah berada tepat di depanku. Aku kini seakan bisa meraskan hembusan napasnya.
Saudaraku, jangan pernah tangisi kepergianku. Tegarlah. Aku yakin akan ada yang bisa menggantikanku. Orang yang akan setia menemai perjalananmu. Dan menggantikan peranku sebagai kita.
Saudaraku, aku harus segera pergi. Perpisahan telah memegang tangan kiriku dan mengajakku pergi.
Saudarakau, selamat tinggal. Teruslah berjalan. Teruslah berpetualang. Kejar terus cita-citamu. Meski setinggi langit. Meski tak ada orang yang percaya bahwa kamu bisa. Percayalah, bahwa aku akan selalu percaya padamu. Dan aku akan mendoakan yang terbaik bagimu.

Saudaramu yang terkasih,
Acil


Tak lama setelah aku menulis catatan terakhirku. Perpisahan segera menarikku dan mengajakku berjalan bersamanya. Telah kutaruh catatan terakhirku dengan baik sehingga saudaraku dengan mudah bisa menemukannya. Aku pun pergi.

Posted on 6:44:00 PM by Unknown

No comments

3/11/2015


Hujan, 1% air dan 99% kenangan.
mesin waktu itu bernama hujan
Aku kira kita sudah tidak asing lagi dengan ungkapan tersebut. Ungkapan yang sangat kekinian. Menjadi salah satu frasa favorit bagi para netizen. Terutama bagi para pecandu meme. Dan bisa dibilang hampir selalu muncul kala hujan tiba, tentu saja dengan berbagai variasinya. Sebuah kalimat simpel namun nampaknya cukup mengena sehingga menyebar begitu cepat seperti panu di tubuh. Ehm, maksudku jamur di musim penghujan.
            Bagiku, hal itu nampaknya ada benarnya. Setidaknya begitulah yang terjadi pada malam ini. Sebetulnya tak ada yang spesial dari malam ini. Masih seperti malam-malam sebelumnya, sunyi dan sepi. Ah, satu lagi, hujan. Bila musim penghujan tiba hampir bisa dipastikan tak ada malam di bulan Maret yang terlewat tanpa hujan di desa ini. Desaku yang kucinta. Pujaan hatiku. Tempat ayah dan bunda. Dan handai taulanku (nyanyi).
Nampaknya satu-satunya yang tidak biasa malam ini adalah aku. Kampung halaman yang biasanya menjadi tempat terbaik untuk tinggal, kini terasa membosankan. Aku bosan. Bosan dengan segala rutinitas yang tanpa energi. Bosan dengan kampung halaman yang begitu tenang dan rindu tanah rantau yang penuh dengan tantangan. Telah kucoba berbaik hati dengan kebosanan yang aku alamai dengan cara bercengkrama dengan buku-bukuku. Yeah, my book is my wife. Begitulah yang selalu kubilang, setidaknya sampai ada istri sungguhan yang siap melengkapi diri.
            Burung-Burung Manyar karya Y.B Mangunwijaya telah kutelanjangi hari itu. Semua telah kubaca hingga selesai kurang dari 24 jam. Aku pun beralih pada Max Havelaar karya Multatuli alias Douwes Dekker. Sudah kubaca hingga bab 4 sebelum akhirnya aku menyerah dan  memilih untuk keluar dan memandang hujan yang tak kunjung reda. Hujan dengan intensitas sedang malam ini sepertinya akan menjadi teman baikku.
            Seperti yang kubilang di atas sepertinya hujan memang turun tidak hanya dengan butir-butir air namun juga kenangan. Perlahan kenangan masa kecil dulu terkenang kembali. Terlihat jelas bak kembali dengan mesin waktu. Kembali ke masa di mana malam terasa lebih sunyi. Tak ada penerangan jalan seperti sekarang. Masa di mana obor masih setia menemani perjalanan malam kami. Obor sederhana yang terbuat dari sebilah bambu dengan minyak tanah di dalamnya yang ujungnya disumpal dengan kain yang berfungsi sebagai sumbu.
Kembali ke masa di mana rumah pun masih jauh dari kata terang. Hanya mengandalkan lampu neon kuning sekian watt yang bersinar temaram. Hanya sedikit rumah yang sudah menggunakan lampu putih panjang yang notabene lebih terang. Bahkan tak jarang yang masih menggunakan damar atau uplik atau petromaks sebagai penerangan rumah. Mungkin masa itu adalah masa-masa terakhir kejayaan petromaks dan kongsinya. Karena setelahnya petromaks mulai ditinggalkan dan aku mulai jarang melihat rumah-rumah yang masih setia menggunakan jasanya.
            Meski temaram, masa itu adalah masa di mana rumah-rumah masih terbuka lebar. Tak seperti sekarang yang semua pintu tertutup rapat begitu senja menjelang. Ah, jangankan senja. Banyak sekarang rumah-rumah yang tertutup 24 jam. Seolah mengasingkan diri dari lingkungan sekitar. Atau mungkin takut barang-barang berharganya dicuri orang? Ah, memang masa sudah berbeda. Sekarang maling sudah mulai berkeliaran. Kemudian timbul pertanyaan dalam diri. Mengapa harus ada yang namanya maling? Apakah karena ada yang iri melihat mereka yang kaya? Atau karena ada yang malas untuk bekerja? Atau karena ada yang sedang berbaik hati dengan sesama? Mengingatkan yang kaya bahwa harta benda mereka hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa hilang tak bersisa. Ah, itu semua bukan urusanku. Saat ini aku hanya ingin mengarungi masa lalu dengan mesin waktuku yang bernama hujan.
            Kembali ke masa di mana jalan depan rumah begitu berdebu ketika kemarau tiba dan begitu becek saat musim penghujan datang. Tak seperti sekarang yang sudah diperkeras menggunakan beton bertulang yang justru nampak begitu dingin. Seolah tak ingin ada satu orang pun yang tahu apakah dia kepanasan ataupun kedinginan. Jalan itu kini terlihat sama, baik kemarau maupun penghujan.
Kembali ke masa di mana jembatan baja belum kokoh melintang di atas permukaan Sungai Tuntang. Jembatan baja yang telah mengggantikan jembatan bambu kami yang nampak lemah di atas air sungai yang nampak pendiam namun pemarah kala musim penghujan datang. Sering menghanyutkan jembatan bambu kami yang lemah entah kemana dan tak bersisa. Tinggallah perahu-perahu kecil yang menggantikannya sebagai sarana menuju desa sebrang. Lengkap sudahlah desa kami terisolasi dari dunia luar. Butuh waktu ekstra untuk menuju ke “pusar peradaban” karena harus jauh memutar.
            Kembali ke masa di mana sepeda onthel masih menjadi alat transportasi utama. Bisa dihitung dengan mudah jumlah orang yang memiliki sepeda motor di desa. Itupun kebanyakan sepeda motor seken buthut yang rajin sekali keluar masuk bengkel. Sepeda motor yang mengeluarkan asap tiap kali dinyalakan. Sungguh tak seperti sekarang yang hampir dipastikan setiap rumah memiliki minimal satu sepeda motor. Bagus pula.
            Kembali ke masa di mana kami berbondong-bondong keluar rumah kala bulan purnama tiba. Menggelar tikar entah apapun bahannya di depan rumah. Berkumpul, berbincang bersama sanak family maupun tetangga. Anak-anak juga? Aku dan teman-temanku waktu itu lebih asyik berlarian, bermain petak umpet atau apalah  asal namanya masih bermain dan tentu saja harus menyenangkan. Tak seperti masa sekarang yang  ramai-ramai mengunci rapat-rapat rumah masing-masing. Tersihir oleh kotak ajaib di rumah masing-masing. Tak ada ruang lagi bagi rembulan untuk melihat wajah kami. Tak ada lagi jithungan. Yang kini sangat kurindukan.
            Ah, masa memang sudah sangat berbeda. Bukankah aku sendiri juga sudah berbeda? Aku akui iya. Aku merupakan contoh salah satu manusia yang turut terlarut oleh zaman. Turut mengunci diri di dalam rumah saat malam tiba. Tak lagi menyapa bulan kala purnama tiba karena kini seolah tak memiliki arti. Hanya kesendirian yang kudapat ketika memaksakan diri keluar rumah. Aku yang turut tersihir oleh kotak ajaib. Kotak ajaib yang biasanya kugunakan untuk mengetahui dunia luar, sarana menuliskan keluh kesahku, seperti yang kulakukaan saat ini. Kotak ajaibku berbeda dengan kusebut sebelumnya. Kotak ajaibku ini bernama laptop. Atau lebih tepatnya Shelly. Begitulah aku menamainya.
            Aku pun tanpa sadar memulai membuat pagar tak terlihat. Perlahan tapi pasti mulai menyulap kamar di rumah menjadi layakna kamar kos. Kamar yang kini tak hanya berfungsi sebagai tempat tidur seperti halnya kebanyakan kamar-kamar di desa kami. Kamar yang kini bisa kugunakan untuk melakukan segala aktivitas. Lengkap. Jadilah aku seolah membuat blok rumah kecil di dalam rumah. Mungkin yang tersisa dari kamarku yang dulu hanyalah korden yang menjadi penutup antara kamarku dengan ruang tengah. Tak ada pintu. Begitulah dari dulu dan sampai sekarang tidak berubah. Mungkin ittulah satu-satunya yang masih tersisa dari masa lalu kamarku.
            Hujan tak jua kunjung reda. Diriku sudah lelah dengan segala perjalanan lintas waktu ini. kuputuskan untuk kembali ke kamar dan menyapa kotak ajaibku dan menuliskan jejak-jejak perjalananku tadi.

Posted on 8:22:00 PM by Unknown

No comments

1/01/2015

Aku?

Ku bukanlah manusia terang
Bukan pula manusia petang
Ku di antara keduanya

Silau oleh cahaya terang
Buta oleh gelapnya malam
Hidup dalam temaram

Aku?

Kunang-kunang
Titik kecil dalam kegelapan
Semut
Mendekati yang manis
Katak
Melompat dan terus melompat
Kupu-kupu
berubah dan berubah

Aku?
Aku?
Aku?
....

Posted on 12:05:00 PM by Unknown

No comments

10/28/2014

arti sumpah pemuda
Sumpah Pemuda
Bukan sekedar ucapan tanpa arti, tapi sebuah ikrar penuh visi
Sumpah pemuda mengingatkan kita bahwa Indonesia ini dibangun atas dasar perbedaan, baik agama, suku, kebudayaan, kepulauan dan beragam latar belakang perbedaan. Perbedaan yang ada bukan jadi halangan bagi kita untuk bersatu karena kita punya kesamaan, yakni tanah air, bangsa, dan bahasa. Itulah Sumpah Pemuda yang diikrarkan para pemuda yang dijadikan dasar untuk bersatu, berjuang meraih kemerdekaan.

Nyalakan kembali semangat Sumpah Pemuda, semangat persatuan
Saat perbedaan atas nama agama dan etnis semakin ditonjolkan, kekerasan banyak dipertontonkan, konflik antar kepentingan  semakin menjadi – jadi, serta korupsi yang menjamur sudah saatnya patriotisme kepemudaan digelorakan kembali. Jangan biarkan hal – hal negatif tersebut mengkhianati jiwa Sumpah Pemuda.

Sebagai pemuda, tunas bangsa sekaligus tulang punggung bangsa sudah selayaknya kita mempelajari sejarah bangsa ini. Belajar dari pengalaman masa lalu untuk selanjutnya memahami nilai-nilai perjuangannya dan semangat-semangat perubahannya. Bangsa yang tidak tahu akan sejarah bangsanya, sama saja dengan seorang anak yang kehilangan induknya, tidak mempunyai penunjuk arah perkembangan bangsa.
                                                                                  
Indonesia itu satu. Satu untuk semua, semua golongan serta komponen bangsa. Di hari Sumpah Pemuda kali ini marilah kita gelorakan kembali semangat Sumpah Pemuda, semangat persatuan. Dengan berdasar Bhinneka Tunggal Ika mari kita berjuang bersama – sama demi kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA, HIDUPLAH NEGRIKU, JAYALAH INDONESIAKU!! BERSATULAH BANGSAKU!!

*Sebuah tulisan lamaku saat masih menjadi staf KASTRAD BEM FT UNS

Posted on 6:00:00 AM by Unknown

No comments

7/14/2014

Mencari perbedaan…

taman cerdas gandekan solo mengajar
Aku Pahlawan Bertopeng
Inilah yang saat ini sedang kami cari di Taman Cerdas (TC) Gandekan, perbedaan. Saya percaya bahwa setiap anak itu spesial. Mereka punya bakat dan minat masing-masing dan itu harus dikembangkan. Kami juga tidak bisa menunggu mereka mengucapkan “saya beda”, kami harus mencarinya sendiri. Istilah kerennya, jemput bola.

Namun siapakah kami? Kami adalah volunteer Solo Mengajar yang membersamai adik-adik belajar 2 kali selama seminggu tiap Selasa dan Kamis mulai jam 19.00-20.00. Kami tidak dibayar, kami sukarela di sini. Meluangkan sedikit waktu kami untuk berbagi.

Dengan waktu pertemuan yang hanya 2 jam selama seminggu ini tentu tidak mudah bagi kami untuk mengetahui perbedaan dari semua adik-adik di sini. Ingat, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Meyakini hal tersebut, akhirnya kami mencoba membuat katalog siswa sebagai sarana untuk memudahkan kami untuk mencari perbedaan mereka.

Katalog siswa ini nantinya selain berisi biodata siswa juga akan berisi catatan dari volunteer yang biasanya mengajar siswa tersebut atau mengenal siswa tersebut. Catatan ini lebih ke bagaimana perilaku mereka, minat dan bakat, bahkan hingga kondisi keluarga jika memungkinkan. Harapannya katalog ini dapat pula digunakan oleh volunteer selanjunya untuk mempermudah mereka mengenal dan beradaptasi dengan adik-adik di TC.

Selain lewat katalog siswa, kami juga melakukan pendekatan secara personal kepada adik-adik terutama mereka yang sudah jelas berbeda. Mereka yang selama ini terlihat punya banyak energi, mereka yang selama ini kesulitan dalam berhitung, mereka yang selama ini banyak menyendiri dan lain sebagainya.

Mereka inilah yang harus segera dicari perbedaannya karena mereka lah yang paling banyak mendapatkan penghakiman akibat perbedaan yang mereka miliki dari orang-orang di sekitar mereka bahkan mungkin guru mereka sendiri. Guru yang seharusnya mendidik justru berubah menjadi hakim yang men cap mereka dengan gelar “anak nakal”, “anak bodoh”, dan masih banyak cap-cap yang lain. Jika mereka memahami betul profesi mereka tentu mereka tidak akan melakukan hal seperti itu.

Pergerakan bukan program

Perlu diingat dan dipahami betul oleh setiap volunteer Solo Mengajar bahwa apa yang kita lakukan tidak boleh berhenti di situ. Masih banyak PR yang harus kita kerjakan karena pendidikan di Indonesia masih menyimpan segudang masalah dan yang namanya masalah itu pasti adanya, kapanpun dan dimanapun.


Selama kita punya hati, tentu kita tidak pernah merasa bahwa tugas kita sudah selesai. Ini pergerakan bukan program. Kita harus terus bergerak, kapanpun dan dimanapun.

Posted on 10:47:00 AM by Unknown

No comments

taman cerdas gandekan solo mengajar
Saya Beda
Saya beda. Dua kata yang tak sulit untuk dipahami bagi kita orang dewasa, bahkan begitu mudah kita ucapkan. Namun apakah kata tersebut bisa diucapkan begitu saja oleh seorang anak kecil?

Saya mencoba membayangkan ada seorang anak yang selama ini mendapatkan cap sebagai anak bodoh hanya karena lemah di pelajaran matematika bisa mengucapkan “saya beda, saya itu sukanya bernyanyi”

Saya juga mencoba membayangkan ada seorang anak yang selama ini terkenal bandel, nakal, dan suka usil di kalangan guru-guru berani bilang, “saya beda, saya hanya punya energi berlebih”

Saya lagi-lagi mencoba membayangkan seorang anak yang menderita disleksia, berani mengucapkan “saya beda” kepada gurunya sehingga ia mendapatkan perlakuan khusus dari gurunya, bukan justru mendapatkan cap pemalas apalagi bodoh hanya karena memiliki dunianya sendiri.


Tidak tidak. Terlalu berlebihan rasanya membayangkan hal seperti itu. Hati seorang anak terlalu bersih untuk mencari-cari alasan akan ketidakmampuannya. Tidak seperi kita yang selalu punya berjuta alasan.

Posted on 10:35:00 AM by Unknown

No comments

3/03/2014

Mempunyai pekerjaan menjadi seorang penulis berita amatiran, membuat saya mau tidak mau harus selalu update tentang informasi yang sedang berkembang. Cara yang paling sering saya lakukan ya buka lepi --> colokin modem --> buka Chrome --> buka portal berita online kenamaan --> carideh berita yang lagi nge hits. Mudah aja dan gak perlu pakai repot.

Kali ini berbagai jurus sudah kulakukan, klik inilah, klik tulah, scroll atas hingga scroll bawah menthok namun belum juga nemu topik berita yang pas. Pencarian berhenti sejenak. Di depan mata sudah terpampang sebuah berita berisi tentang laporan dana kampanye partai politik peserta Pemilu 2014. Menarik. Setidaknya ada 4 hal yang membuatku tertarik untuk mengomentari berita yang satu ini, pertama adalah uang, kedua adalah parpol, ketiga adalah Pemilu 2014, dan yang keempat adalah uang lagi.

PERTAMA, mari kita bicara tentang uang. Tak banyak yang ingin saya bicarakan di sini karena takut tak bisa berhenti jika sudah bicara terlalu banyak tentang uang. Baik, di laporan tersebut tertulis angka miliaran rupiah, mulai dari puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Jumlah yang bisa dibilang tidak sedikit bagi banyak orang namun bisa jadi merupakan sebuah jumlah yang sedikit bagi sebagian kecil lainnya. Karena belum pernah lihat dan punya uang sebanyak itu maka saya sepakat dengan banyak orang bahwa itu jumlah uang yang banyak.

KEDUA, mari mengalihkan perhatian sejenak dari uang menuju parpol. Salah satu makanan favorit bagi jurnalis ini, cukup ramai dibicarakan akhir-akhir ini. entah sudah berapa banyak berita yang dihasilkan hanya dari makanan bernama partai politik. Dari sekian banyak berita yang dihasilkan, hampir semuanya berisi berita negatif. Sebut saja skandal korupsi, salah satunya. Lantas apa yang membuat topik ini menjadi menarik? Ya karena apa lagi kalau bukan karena saya menunggu datangnya berita baik mengenai makanan yang satu ini.

KETIGA, bergeser sedikit dari parpol mari kita bicara tentang Pemilu 2014. Sebagai salah satu syarat sah ‘demokrasi’, maka untuk memilih pemimpin di negeri ini diadakanlah sebuah pemilu. Pemilu 2014 sendiri bakal menjadi pemilu ketiga sepanjang sejarah berdirinya negara Indonesia. Jika pada 2 pemilu sebelumnya yang menjadi pemenangnya adalah orang yang sama, maka pada tahun ini akan ada ‘wajah baru’ yang bakal menjadi pemenang. Ini dia yang paling menarik. Siapakah sosok yang paling banyak dipilih oleh rakyat Indonesia tahun ini? sosok yang bakal menjadi nahkoda dari sebuah bahtera besar bernama Indonesia. Sepertinya saya harus bersabar, setidaknya untuk beberapa bulan ke depan jika ingin mengetahui dari pertanyaan tersebut.

KEEMPAT, mari kita abaikan sejenak poin kedua, ketiga dan kembali kEpada poin pertama. Uang. Ketika deretan-deretan angka terpampang di depan mata, naluri saya sebagai orang eksak untuk menjumlahkan angka-angka tersebut tak dapat dibendung lagi. Tanpa kesulitan yang berarti, semua angka-angka tersebut telah selesai saya jumlahkan. Dan ternyata total uang sebanyak Rp 1,9385 triliun bakal dihabiskan oleh kedua belas parpol peserta pemilu pada tahun ini. Jumlah yang tak bisa dibilang sedikit lagi. Bahkan itu belum termasuk biaya-biaya tambahan yang tidak tercatat di buku keuangan. Padahal dengan uang sebanyak Rp 1,9385 triliun saja saya sudah bisa membeli persediaan es krim untuk seumur hidup.

SATU-EMPAT, saatnya kita bicara yang lebih umum. Sebulan lagi, tepatnya pada 9 April 2014 nanti Indonesia bakal melaksanakan pemilu legislatif. Namun menjelang pelaksanaannya, isu golput seakan tak kunjung surut malah semakin meningkat. Padahal biaya yang dikeluarkan oleh tiap parpol untuk membeli suara rakyat tidaklah sedikit. Total Rp 1,9385 triliun bakal dikeluarkan oleh kedua belas parpol peserta pemilu 2014.

Lihatlah. Lihatlah. Betapa mahalnya demokrasi di negeri ini. Demokrasi yang kalau Aristoteles bilang sebagai sistem terburuk untuk memilih pemimpin namun di sisi lain merupakan sistem yang paling mungkin untuk dilaksanankan.

Saya mau bilang, dengan biaya sebanyak itu apakah tidak sayang jika pemimpin yang terpilih bukanlah pemimpin yang terbaik? Masihkah terbesit di pikiran untuk tidak memilih di Pemilu 2014 nanti? Terlepas dari besarnya uang yang dikeluarkan, sebagai rakyat yang masih waras saya bilang, memilih adalah suatu keharusan.  Jika masih menginginkan Indonesia lebih baik, maka ikuti aturan mainnya. Karena Indonesia memilih sistem demokrasi yang membuat semua orang bisa mengajukan diri sebagai caleg maupun capres asal memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan, hadirnya orang-orang yang merasa layak tapi sebenarnya tidak layak tak dapat dihindarkan.

Jadilah pemilih yang cerdas. Sepertinya yang pernah saya sampaikan di postingan sebelumnya, ‘Acil, Lebih baik memilih’, pilihlah yang terbaik dari yang baik, jika tak ada yang baik maka pilihlah yang paling sedikit keburukannya.


Partai Politik
Laporan Awal Dana Kampanye
Nasdem
Rp 139 miliar
PKB
Rp 69,7 miliar
PKS
Rp 82,4 miliar
PDIP
Rp 220,8 miliar
Golkar
Rp 174 miliar
Gerindra
Rp 306,6 miliar
Demokrat
Rp 268,1 miliar
PAN
Rp 256,3 miliar
PPP
Rp 96,8 miliar
Hanura
Rp 241 miliar
PBB
Rp 47,3 miliar
PKPI
Rp 36,4 miliar

Posted on 9:06:00 AM by Unknown

No comments