Showing posts with label sosok. Show all posts
Showing posts with label sosok. Show all posts

4/24/2015

Aku bukanlah orang yang suka mengoleksi novel. Bukan karena tidak suka hanya saja aku pikir jika hanya novel aku bisa pinjam ke temanku. Tapi tidak untuk novel yang satu ini, Burung-Burung Manyar namanya. Buah karya dari Y.B. Mangunwijaya. Bermula dari sebuah diskusi santai bersama temanku tentang buku, sampailah dia bercerita tentang novel Burung-Burung Manyar. Dia bercerita bahwa dia begitu ingin memiliki novel tersebut namun belum juga kesampaian. Aku pun penasaran, seperti apa novel Burung-Burung Manyar itu sampai ia begitu menginginkannya. Dari apa yang ia ceritakan, aku mulai tertarik dengan novel tersebut. Aku pun berkonsultasi dengan Mbah Google.
            Google....”burung-burung manyar”, search..
Y.B. Mangunwijaya
Burung-Burung Manyar
            Dari Mbah Google aku mendapatkan informasi bahwa novel tersebut telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, seperti Jepang (Arashi no Naka no Manyar), Inggris (The Weavebirds), dan Belanda (Het boek van Wevervogel). Keren bukan? Bisa dibilang novel ini merupakan sebuah mahakarya di masanya. Dan yang tak kalah menarik dari novel ini bagiku adalah, setting waktu yang diambil adalah pada masa kemerdekaan. Tak pelak hal ini semakin menambah keinginanku untuk membelinya.
            Ada sedikit kisah menarik saat aku mencari novel ini di sebuah toko buku. Aku yang mulai lelah mencari-cari keberadaan novel tersebut, mencoba peruntungan dengan bertanya pada seorang penjaga toko. Sebut saja “masnya”. Semoga masnya bisa memberi pencerahan padaku. Setelah kujelaskan keperluanku, masnya ber “oh” pertanda mengerti apa yang kucari. Ia pun menunjukkan isyarat agar aku mengikutinya. Eh...bukannya ditunjukkan novel Burung-Burung Manyar malah ditunjukkan deretan buku yang isinya cara merawat burung manyar. Di situ kadang saya merasa sedih. Duh mas, aku nyari novel bukan mau melihara burung. Tapi karena tidak ingin membuat masnya bersedih hati aku pun pura-pura memilah-milah buku tersebut sebelum akhirnya kabur ketika masnya pergi. Haha.
            Singkat cerita, aku akhirnya berhasil mendapatkan buku tersebut. Sebelum kubaca, aku sampuli terlebih dulu buku tersebut layaknya buku-bukuku yang lain. Biar awet bos. Haha. Aku buka lembar demi lembar novel tersebut, kubaca dengan seksama sambil membayangkan cerita yang disajikan novel tersebut. Aku begitu menikmati membaca novel tersebut hingga tak terasa aku telah merampungkan novel tersebut kurang dari 24 jam. Haha.

MANUSIAWI
            Itulah satu kata yang aku pilih apabila diminta untuk menggambarkan novel tersebut dengan satu kata. Lewat Burung-Burung Manyar kita diajak oleh Y.B Mangunwijaya untuk melihat sisi lain dari masa kemerdekaan. Dalam hal ini kita diajak untuk melihatnya dari sisi pribumi yang mengabdi pada Belanda. Seorang pribumi yang begitu membenci Jepang. Seorang pribumi yang anti republik. Pribumi tersebut bernama Setadewa, alias Teto. Seorang anak letnan KNIL (tentara kerajaan Belanda).
            Aku selalu membayangkan bahwa kemerdekaan adalah impian semua rakyat Indonesia kala itu. Aku selalu membayangkan bahwa keadaan pasti akan lebih baik setelah Indonesia merdeka. Tapi itu dulu. Seiring berjalannya waktu aku mulai sadar bahwa setiap perubahan, sebut aja revolusi pasti timbul yang namanya gejolak. Ada masa di mana kita merasa bahwa keadaan tak jua kunjung membaik meski telah terjadi revolusi. Bahkan mungkin bagi sebagian orang justru terasa semakin buruk. Terutama bagi rakyat kecil yang bisa jadi tidak begitu peduli dengan yang namanya kemerdekaan. Tak peduli siapa yang menjadi pemimpin mereka. Asal mereka bisa makan tiap hari saja itu sudah cukup.
Aku masih belum mampu membayangkan bagaimana jika aku hidup di masa kemerdekaan. Hidup di masa sebuah negara mencoba berdiri sendiri setelah ratusan tahun tertidur telungkup. Masa di mana sebuah negara sedang mencari pijakan dan jati diri. Pastilah berat. Lewat Burung-Burung Manyar ini, kita diajak untuk merasakan itu semua. Hidup di masa awal kemerdekaan dengan sudut pandang dari seseorang yang anti republik dan lebih memihak Belanda.
            Lantas, salahkah Teto yang lebih memilih memihak Belanda ketimbang republik? Begini, mari coba kita berandai-andai jika kita menjadi Teto. Lahir sebagai anak seorang letnan KNIL dan masih keturunan keraton. Bukankah Teto kecil terbiasa hidup nyaman dan bebas? Sebelum akhirnya Jepang datang dan membuat keluarganya terpisah. Ayahnya ditangkap tentara Jepang, sedangkan ibunya harus merelakan dirinya menjadi budak Jepang demi keselamatan ayahnya. Untuk alasan satu ini aku kira semua akan setuju jika Teto begitu membenci Jepang. Tapi kenapa ia masih saja memihak Belanda ketimbang membela republik saat kemerdekaan itu tiba? Silahkan temukan jawabannya sendiri ya...hehe
            Novel ini memang berlatar belakang zaman kemerdekaan. Tapi novel ini tidak hanya berbicara tentang heroisme perjuangan, novel ini juga bicara tentang roman. Bahkan di sampul bukunya sudah terpampang jelas, sebuah roman. Aku suka bagaimana cara Y.B. Mangunwijaya menggambarkan romantisme di novel ini. Tidak berlebihan dan terasa begitu manusiawi. Sebuah romantisme yang begitu jantan. Romantisme antara Teto yang anti republik dengan Atik yang pro republik.
            Overall, aku suka sekali dengan Burung-Burung Manyar. Novel ini begitu hidup. Aku suka alur ceritanya, aku suka setting ceritanya, aku suka penokohannya, aku suka bahasanya, aku suka Burung-Burung Manyar. Bacalah, dan nikmati sensasinya. Haha.

Posted on 2:35:00 PM by Unknown

No comments

2/06/2014

Sinopsis buku Ayah Buya Hamka
"Ayah..." Kumpulan Kisah Buya Hamka
Buya Hamka. Begitulah orang akrab memanggilnya. Lelaki bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini merupakan salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini. Ya bisa dibilang beliau termasuk salah satu manusia langka yang pernah dimiliki Indonesia. Belum tentu dalam jangka waktu 100 tahun akan dilahirkan Hamka-Hamka yang lain dari rahim seorang perempuan Indonesia.

Seberapa jauh kita mengenal Buya Hamka? Mungkin tak banyak. Kebanyakan dari kita cuma mengenal luarnya saja dari buku-buku sejarah yang telah usang. Lantas, Bagaimana kalau seorang anak dari Buya Hamka mencoba mengenalkan sosok Buya Hamka kepada kita lewat sebuah buku? Cukup menarik…

Ayah…

Adalah Irfan Hamka nama anak tersebut (kalau sekarang lebih cocok dipanggil kakek). Seorang anak dari Buya Hamka sekaligus penulis buku “Ayah…”. Lewat buku ini kita bisa mengenal lebih dekat sosok Buya Hamka. Entah itu sebagai seorang ulama, politisi, sastrawan, maupun sebagai seorang ayah. Irfan Hamka mampu mendeskripsikan kepada kita sosok Buya Hamka dengan baik. Cukup dengan bahasa yang ringan namun sarat akan makna.

Lewat buku “Ayah…” kita seakan mengenal Buya Hamka secara personal. Kita bisa melihat berbagai peristiwa besar yang pernah dialami oleh Buya Hamka, termasuk yang berkaitan dengan urusan keluarga.

Buku “Ayah…” terdiri dari 10 bagian, yang isinya :

Bagian Satu..
Sebelum bercerita tentang sosok Buya Hamka, penulis mengajak kita untuk sejenak mengenang nasihat dari Buya Hamka yang begitu berkesan bagi penulis. Nasihat yang dianggap masih relevan dengan kondisi saat ini.

Bagian Dua..
Pada bagian ini secara khusus penulis mencoba menghadirkan sosok Buya Hamka di mata anak-anaknya ketika mereka masih kecil. Tak banyak dan tak runtut namun cukup untuk menggambarkan sosok Buya Hamka, ayah yang begitu disayang oleh keluarganya.

Bagian Tiga..
Unik. Mungkin itulah kata yang paling tepat untu menggambarkan bagian ini. Di sini penulis bercerita tentang kisah Buya Hamka berdamai dengan jin penunggu rumah mereka.

Bagian Empat..
Pada bagian ini penulis bercerita tentang pengalamannya beserta ayah dan ibunya ketika menjadi pelaut. Eh, maksud saya ketika naik haji. Biarpun gak salah juga sih, karena waktu itu perjalanan menuju tanah suci masih ditempuh menggunakan kapal laut. Haha.

Bagian Lima..
Perjalanan ke tanah suci bisa jadi kurang lengkap jika tidak berkunjung ke negara arab yang lain, sebut saja Suriah, Lebanon, Irak, dan Kuwait. Pada bagian inilah perjalanan ke negara-negara tersebut diceritakan. Sebuah perjalanan antara hidup dan mati.

Bagian Enam..
Penulis di sini mencoba mengemukakan pendapatnya bahwa Buya Hamka merupakan seorang sufi. Bukan sekedar pendapat kosong namun disertai beberapa alasan.

Bagian Tujuh..
Dibalik seorang lelaki hebat di belakangnya selalu ada sosok perempuan yang hebat pula. Diceritakan di sini sosok perempuan hebat dibalik nama Buya Hamka. Siapa lagi kalau bukan  adalah istri beliau, Siti Raham.

Bagian Delapan..
Siapa sih yang tidak suka dengan kucing? Saya kira hampir semuanya suka. Nah, ternyata Buya Hamka juga memiliki seekor kucing kesayangan bernama si kuning. Kucing yang setia.

Bagian Sembilan..
Pada bagian ini penulis bercertia tentang lika liku kehidupan ayahnya mulai dari kecil hingga menjadi Buya Hamka yang kita kenal saat ini dengan sejumlah karyanya. Sebut saja tafsir Al-Azhar, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan masih banyak lagi. Bagian ini semakin menarik karena ditambahkan pula tentang kisah hubungan Buya Hamka dengan tokoh nasional yang lain.

Bagian Sepuluh..
Akhir dari isi buku ini sekaligus akhir dari segala cerita. Bagian ini mengisahkan detik-detik sebelum Buya Hamka meninggal dunia.

Belajar sejarah mengajak kita untuk menengok jauh ke belakang. Mengenang kembali peristiwa-peristiwa yang telah lampau. Bukan berarti kita “gagal move on”, namun lewat sejarahlah kita merangkai masa depan yang lebih baik. Meminjam kalimatnya Bung Karno, “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!”.


#Acil dan masa lalu

Posted on 6:43:00 PM by Unknown

No comments

4/02/2013


Petualangan Acil kembali berlanjut. Kali ini Acil akan menceritakan tentang pengalaman Acil berguru kepada Jamil Azzaini, seorang ustadz sekaligus seorang motivator. Kejadian ini terjadi pada hari Minggu, 31 Maret 2013. Inilah ceritanya….
Setelah seharian melakukan ‘dinas’ yang melelahkan, maka pulang ke ‘kotak 3x3’ menjadi pilihan utama. Sesampainya di kost saya bertemu abang Wachid yang mau pergi entah kemana. Mungkin pergi ‘dinas’ seperti biasa, maklum orang sibuk. Haha… Tiba-tiba dia mengajakku untuk pergi ke acaranya Jamil Azzaini. Hmm…saya tidak tahu siapa itu Jamil Azzaini, cuma merasa pernah mendengar namanya namun tidak tahu menahu tentang orangnya. Dikarenakan saya tidak punya agenda untuk malam ini jadi saya mempersilahkan si abang untuk ’menculikku’ malam ini. Usut punya usut ternyata Jamil Azzaini adalah seorang penulis buku, motivator, dan bisa dikatakan seorang ustadz pula. Ternyatanya lagi malam ini akan ada bedah buku Jamil Azzaini yang ke-4 berjudul 4ON di Jaten, lebih tepatnya di sebuah masjid bla bla bla(saya lupa namanya :D).

Posted on 5:24:00 PM by Unknown

4 comments