Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

9/16/2015

Ini adalah kisah antara sepasang sandal dengan tuannya. Yang kusebut Aku di sini adalah seorang tuan pemilik sepasang sandal. Dan yang kusebut Dia di sini adalah sepasang sandal kepunyaan si tuan. Aku dan Dia saling membutuhkan satu sama lain. Aku membutuhkan Dia sebagai teman untuk meniti panas dinginnya jalanan, sedangkan Dia jauh lebih membutuhkan Aku ketimbang Aku membutuhkan Dia. Apalah arti Dia tanpa seorang Aku. Dia takkan pernah berarti keberadaannya di dunia ini tanpa adanya Aku.

Aku dan Dia selalu bersama, panas, dingin, landai, terjalnya jalanan telah mereka lalui bersama. Tak terhitung lagi berapa banyak tempat yang mereka kunjungi bersama. Puluhan? Ratusan? Sepertinya lebih. Bukan jumlah yang menjadi perhatian keduanya, tetapi kualitas dari setiap perjalanan lah yang menjadi perhatian keduanya.

Sebut saja kenangan. Dari setiap langkah yang terantuk batu, dari setiap langkah yang basah oleh hujan, dari setiap langkah yang berdebu, serta dari langkah-langkah yang lain. Itulah langkah-langkah yang membentuk kenangan.

Aku selalu berharap Dia dapat terus menemaninya. Tapi, itu hanya sebuah harapan. Pada akhirnya selalu ada lelah yang menanti di akhir sebuah perjalanan panjang. Ada tempat peristirahatan yang dirindukan di setiap keberangkatan. Untuk Aku dan untuk Dia.

Aku sadar bahwa masanya berbeda dengan Dia. Masa Aku lebih panjang dari pada Dia. Aku ditakdirkan untuk berganti dengan Dia-Dia yang lain di sepanjang perjalanan. Berbeda dengan Dia yang ditakdirkan hanya untuk seorang Aku, kecuali takdir berkehendak lain.

Cepat atau lambat, masa itu akan segera tiba. Masa ketika Dia tak lagi bisa membersamai Aku. Masa ketika Aku dan Dia berpisah untuk selang masa yang tidak diketahui, baik oleh Aku maupun Dia.

Yang namanya kenangan pasti akan kembali. Cepat atau lambat. Begitupun dengan kenangan Aku tentang Dia. Pada masanya nanti Dia akan kembali mendatangi Aku beserta kenangan yang telah mereka lalui bersama.

Dia dengan runtut dan pelan akan bercerita tentang setiap perjalanan yang mereka lalui bersama. Baik itu jalan yang lurus tak berujung maupun jalan yang berkelok membingungkan. Baik jalan yang ramai oleh hiruk pikuk kehidupan maupun jalan yang sunyi dan sepi. Semua akan Dia ceritakan.

Bisa jadi, Aku akan senang dengan semua kenangan yang Dia ceritakan, hingga Aku tak kuasa lagi untuk membendung senyumnya. Bisa jadi, Aku merasa tak ingin mendengar sedikitpun tentang setiap kenangan yang Dia ceritakan kembali, hingga Aku tak kuasa lagi menahan tangisnya.

Begitulah kisah antara sepasang sandal dan tuannya. Kisah antara Aku yang punya kuasa atas Dia, serta kisah tentang Dia yang setia menemani aku dengan penuh penerimaan.

Posted on 2:20:00 PM by Unknown

No comments

8/17/2015

Jakarta, Agustus 2015
Sore itu conversation class terasa lebih hidup dari pada biasanya. Tami yang memang paling fasih bahasa Inggrisnya terlihat antusias dengan topik pembicaraan yang diangkat oleh Mike.
Mike    : “I don’t believe it. Aku tidak percaya jika Amerika tidak tahu tentang rencana penyerangan Pearl Harbour. Dengan teknologi kami miliki saat itu Amerika pasti tahu jika Jepang hendak menyerang. Semua itu disengaja. Sama halnya dengan peristiwa 11 September.”
Tami    : “O iya? Apa yang membuatmu yakin Mike?”
Mike    : “You know? Aku lahir dan besar di Amerika. Aku telah berkali-kali mendiskusikan hal ini dengan teman-temanku di sana. Dan menurutku banyak sekali fakta sejarah tentang Amerika yang tidak kalian ketahui. Hm..Pada akhirnya siapa yang berkuasa dia yang menulis sejarah. Right?”
Tami    : “Absolutely right. Hal seperti itu juga terjadi di Indonesia. Banyak sekali fakta sejarah yang ditutupi demi kebaikan pemerintah yang berkuasa.”
Mike    : “Well, itu terjadi di belahan dunia manapun.”
Tami    : “By the way Mike, turut sertanya Amerika dalam perang dunia 2 aku kira patut disyukuri.”
Mike    : “Mengapa kamu bisa bicara seperti itu? Banyak warga Amerika yang mati konyol karena hal itu.”
Tami    : “Terlepas dari siapapun yang menang pada perang dunia 2. Bukankah dengan turut sertanya Amerika dalam perang dunia 2 membawa angin segar bahwa perang yang telah terjadi selama beberapa terakhir itu akan segera berakhir? Perbedaan kekuatan menjadi semakin keliatan Mike. Sekutu di atas angin.”
*bersambung*

Solo, Agustus 2015
Tak ada hari-hari yang lebih melelahkan bagi Adi selama hidupnya selain hari-hari yang saat ini ia jalani. Pagi-pagi berangkat ke laboratorium, dilanjutkan dengan konsultasi dengan dosen, dan kemudian masih harus mengurusi organisasi yang memang telah menjadi dunianya selama ini. Sore itu seperti hari-hari sebelumnya dia pulang ke kosan sebentar untuk kemudian berngkat menghadiri acara organisasi yang ia ikuti.
Deni    : “Di, tumben jam segini kamu udah pulang. Biasanya aja malam baru pulang. Numpang tidur doang di kosan.”
Andi    : “Habis ini pergi lagi kok. Tenang, aku gak akan mengganggumu dengan segala khalayanmu.”
Deni    : “Sial. Ini semua tentang seni Di. Tuntutan profesi.”
Andi    : “Iya, silahkan dilanjutkan saja senimu itu. Cuma inget jangan disalahgunakan ya?”
Deni    : “Disalahgunakan gimana Di?”
Andi    : “Kamu kira aku ga tau tentang hubungan kamu dengan Ratna? Tentang tumpukan kertas di tong sampah yang berisi puisi untuknya? Tentang diorama-diorama yang kamu buat untuknya? Sudahlah Den, nikahi saja si Ratna. Jangan cuma kamu kasih janji-janji manis. Kasih dia janji suci. Itu yang bener Den.”
Deni    : (mukanya mulai memerah) “Eh, kamu tau dari mana? Kamu kira nikah gampang apa?
Andi    : “Ada deh. (Sambil berlari kecil keluar dan mulai menaiki sepeda motro) Gampang kok, tinggal kamu mau berusaha apa enggak? Udah ya, aku berangkat dulu. Assalamualaikum.”
Deni    : “Eee...malah kabur. Waalaikumsalam.”

Desa Mekarsari, Agustus 2015
Kayuhan yang keseribu sekian telah mengantarkan Pak Karyo dengan sepeda onthelnya sampai ke rumah sebelum petang menjelang. Istrinya telah menyambutnya dengan segelas kopi panas dan sepiring pisang goreng yang sangat disukainya.
Bu Karyo        : “Ini pak kopi dan pisang goreng kesukaan bapak. Mumpung masih panas, silahkan dimakan pak. Biar capeknya segera ilang.”
Pak Karyo       : “Suwun ya bu. Ibu ini emang istri bapak yang paling pengertian.”
Bu Karyo        : “Ah, bapak ini bisa aja. Lha wong istri bapak cuma ibu seorang, ya jelas lah ibu yang paling pengertian.”
Pak Karyo       : “Haha, bener kan apa yang bapak bilang.”
Bu Karyo        : “Bapak ini mah sukanya nggombalin ibu. Ngomong-ngomong pak, sawah kita gimana?”
Pak Karyo       : “Kan gara-gara bapak gombalin juga ibu jadi mau sama bapak. Haha. Alhamdulillah bu, insyaAllah tahun ini hasilnya akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Ndonga wae bu marang Gusti sing menehi urip.”
Bu Karyo        : “Iyo pak. Ra pernah awak iki lali ndonga marang Gusti. Opo wae hasile mengko ibu bakal trimo pak. Berarti emang segitu jatah rejeki buat kita. lak yo ngono to pak?”
 Pak Karyo      : “Bener bu. Ah ibu ini, bener-bener istri bapak yang paliiiinnng pinter. Bapak jadi makin sayang sama ibu.”
Bu Karyo        : “Ih, bapak (sambil nyubit). Bentar ya pak, ibu ke dapur dulu. Nasinya kayaknya sudah matang tuh.”

Jakarta, Agustus 2015
Mike    : “Aku tidak sepenuhnya setuju dengan apa yang kamu katakan. Yang jelas tanpa Jepang menyerang Pearl Harbour pun Amerika tetap akan terlibat dalam Perang Dunia 2. Penyerangan Pearl Harbour hanya alasan penguat saja.”
Tami    : “Kamu sepertinya terlalu banyak mempelajari teori konspirasi Mike. Baiklah Mike, aku akan bercerita sedikit tentang negriku kala Perang Dunia 2 berkecamuk di Pasifik.”
Mike    : “Silahkan. Aku akan sangat senang mendengarnya.”
Tami    : “Kamu tahu Mike? Pasca peristiwa Pearl Harbour dan Amerika kemudian secara terbuka turut serta dalam Perang Dunia 2, Jepang mulai menderita kekalahan di Pasifik dan puncaknya adalah ketika Amerika dengan kejinya menjatuhkan bom nuklir ke Hiroshima dan Nagasaki. Tidak ada pilihan lain bagi Jepang selain menyerah tanpa syarat pada sekutu.”
Mike    : “Yeah, aku tahu itu. Sekolah kami mengajarkan hal itu semua”
Tami    : “Apakah kamu tahu Mike? Jepang waktu itu sedang menjajah bangsaku. Kekalahan Jepang merupakan angin segar bagi kami yang saat itu tengah memperjuangkan kemerdekaan kami. Kemerdekaan yang telah dirampas bangsa lain dari kami selama lebih dari 3 abad Mike. 3 abad!”
Mike    : “Oh my god. Itu waktu yang sangat lama. Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
Tami    : “Banyak hal telah terjadi di masa lalu Mike. Yang jelas, selang beberapa hari setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu, kami bangsa Indonesia akhirnya mendapatkan kemerdekaan kami.”
Mike    : “Cerita yang sangat menarik Tam. Aku sangat ingin mendengar kelanjutannya, tapi sayang sekali aku sudah janji setelah ini. Jadi mari kita lanjutkan pembicaraan ini di lain kesempatan.”

Tami    : “Baiklah Mike, kapanpun kamu mau, aku dengan senang hati akan menceritkannya padamu.”

Posted on 12:43:00 PM by Unknown

No comments

4/23/2015

Mawar merah
Rose
Perkenalkan, namaku Rose. Begitulah aku biasa dipanggil dan begitu pula nama lengkapku. Ya, namaku hanya Rose. Satu kata, 4 huruf. Tak kurang dan tak lebih. Aku ingatkan, jangan pernah kalian mengejekkuku karena namaku. Kalian boleh mengejekku karena kejelekan rupaku atau karena ketidakmampuanku akan berbagai hal, tapi tidak untuk namaku. Nama ini adalah satu-satunya peninggalan dari Almarhumah ibuku. Takkan kubiarkan siapapun menertawakannya.
            Aku ulangi sekali lagi, namaku Rose. Aku dilahirkan pada masa peralihan antara musim kemarau menuju musim penghujan. Kala pohon-pohon mulai bersemi. Kala burung-burung berkicau riang menyambut turunnya berkah dari langit. Kala hanya ada satu bunga mawar yang mekar di pekarangan rumah. Kesendirian mawar itulah yang menjadikannya pusat perhatian dan begitu dijaga oleh kedua orang tuaku yang memang pecinta bunga. Hingga akhirnya aku lahir menyapa dunia dan dinamai Rose. Mawar satu-satunya keluargaku. Mawar yang menjadi pusat perhatian dan akan selalu dijaga.
Baik, mari hentikan pembicaraan tentang nama. Aku takut aku tidak dapat menahan segala rasa yang telah lama kusimpan rapat-rapat untuk diriku sendiri.
Singkat cerita, kini aku sudah besar. Aku telah berumur 23 tahun. Umur yang mulai bisa disebut dewasa untuk ukuran seorang perempuan. Umur di mana seorang perempuan mulai sering ditanya tentang jalan hidup yang ia pilih. Jalan hidup yang selalu saja dipertanyakan setiap orang meskipun aku sudah memilih dan aku sendiri yang akan menjalaninya. Namun tetap saja pertanyaan yang berisi keraguan tentang apa yang aku pilih selalu saja muncul. Mengapa pilih ini lah, mengapa pilih itu lah, dan saudara mengapa mengapa yang lain selalu saja bermunculan. Seolah apapun yang aku pilih salah di mata mereka. Plis, mengapa tidak kalian berhenti melemparkan kata mengapa padaku? Aku benci dengan kata itu. Aku bukanlah orang yang kuat yang bisa terus berdiri dihujani kata mengapa. Jadi kumohon berhentilah mempertanyakan segala keputusanku.
Dari sekian pertanyaan mengapa yang paling sering muncul adalah mengapa di usiaku yang sudah menginjak 23 tahun ini aku belum juga menunjukkan keinginan untuk menikah. Ya, aku memang belum ingin menikah dalam waktu dekat ini. Bukan karena aku tidak ingin apalagi karena tidak ada lelaki yang tertarik padaku. Percayalah, sudah ada beberapa lelaki yang mencoba mendekatiku. Mencoba menawarkan janji-janji palsu mereka yang hanya aku anggap sebagai angin lalu. Untuk saat ini, aku hanya masih ingin bebas. Aku hanya ingin bermesraan dengan diriku sendiri. Sebelum kelak aku menjadi seorang istri. Dan jika waktu itu tiba, percayalah aku rela mengorbankan setiap kebebasanku dan hidup di bawah ketiak suami.
Jika kalian tidak pernah merasakan rasanya menjadi anak rumahan sepanjang hidup, maka jangan sekali-kali kalian mempertanyakan keputusanku itu. Kalian harus tahu, aku bosan. Aku bosan terus menerus menjadi mawar yang terkurung di pekarangan rumah. Yang hanya bisa melihat iri pada kupu-kupu yang bisa terbang bebas sesuka hatinya. Aku sangat ingin sekali keluar. Merasakan matahari pagi dari puncak gunung, menikmati indahnya senja di bibir pantai, aku ingin menikmati suka duka hidup sendiri.
Aku ingin kerja di luar kota, jauh dari sanak famili. Aku ingin merasakan nikmatnya menikmati hasil jerih payah sendiri. Menikmati setiap jatuh bangun yang aku yakin akan membuatku semakin kuat dalam menghadapi hidup. Aku sampai saat ini aku tidak sekalipun menyesali pilihan yang telah aku pilih. Meski sudah setahun lebih semenjak aku lulus dan menjadi seorang sarjana namun aku belum juga mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan. Aku, yang dulu di elu-elukan sebagai harapan bangsa ketika masih menjadi mahasiswa, kini hanya menjadi beban bangsa. Kini, aku menjadi bagian dari sekian juta penggangguran yang ada di negri ini. Dan dengan titel sarjana yang aku sandang bebanku sebagai pengangguran semakin berat. Memang benar kata orang-orang, bahwa menjadi sarjana bukanlah sebuah jaminan untuk mendapatkan hidup yang lebih mudah.
Aku memang belum mendapatkan pekerjaan tapi bukan berarti aku cuma berdiam diri saja selama setahun ini. Aku terus bergerilya dari satu kota ke kota yang lain untuk mendapatkan pekerjaan yang layak buatku. Aku memang orangnya suka pilih-pilih. Aku enggan jika harus bekerja di sembarang tempat, apalagi tidak sesuai dengan bidangku. Aku tidak ingin menghabiskan waktu kebebasanku yang aku pikir tidak akan lama ini hanya untuk bekerja di tempat yang tidak aku senangi. Aku ingin bekerja dengan sepenuh jiwa bukan karena keterpaksaan. Selama aku masih bisa memilih maka aku lebih baik memilih.
Aku ingin sedikit bercerita tentang sedikit usahaku dalam mendapatkan pekerjaan. Pernah suatu ketika sekitar jam 9 malam aku mendapatkan panggilan tes kerja dari sebuah perusahaan di Surabaya. Padahal aku waktu itu masih dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta ke Solo dan besok pagi harus sudah berada di Surabaya. Aku bingung. Ini sudah malam dan jika ingin ikut tes maka kau harus berangkat malam ini juga. Aku ini seorang perempuan. Apa kata orang jika aku keluar malam-malam begini. Pasti akan semakin banyak kata mengapa yang akan menghampiriku. Aku juga tidak mungkin mengajak ayahku yang sudah tua dan harus bekerja esok hari.
Aku pun akhirnya mencoba peruntungan dengan mengajak teman dekatku, Cinta namanya. Aku sebenarnya tidak terlalu berharap banyak selain karena sudah malam, Solo-Surabaya bukanlah jarak yang dekat. Tapi ternyata Tuhan sedang berbaik hati. Cinta mau menemani perjalananku. Dan dengan restu dari ayahku, kami berdua pun berangkat ke Surabaya tengah malam itu juga.
Aku memang belum tahu hasil dari tes kerja ku yang di Surabaya itu. Tapi aku sangat berharap aku bisa diterima sehingga aku dapat mengakhiri pencarianku. Aku mulai lelah. Sudah terlalu banyak pertanyaan mengapa yang menghampiriku. Aku ingin segera mengakhirinya dan mengusir jauh-jauh pertanyaan-pertanyaan itu dari kehidupanku.

Baik, sepertinya aku harus menyudahi cerita ini sampai di sini dulu. Aku harus segera pergi ke Semarang. Lain kali mari kita lanjutkan.

Posted on 9:05:00 AM by Unknown

No comments

3/20/2015

tinta putih udin jenggot
Catatan Terakhir Acil
Bukankah setiap pertemuan itu menjanjikan perpisahan? Bukankah perpisahan adalah hak setiap pertemuan? Yang pasti akan diminta, cepat atau lambat? Meskipun sudah pasti, kenapa tetap saja perpisahan itu terasa menyedihkan. Seolah perpisahan itu jauh. Seolah perpisahan itu dapat dihindari. Seolah perpisahan itu tak pernah ada. Atau jangan-jangan aku saja yang tak pernah mengganggap bahwa perpisahan itu ada. Tak pernah menyiapkan diri menghadapi perpisahan. Terlena dengan hegemoni pertemuan yang seolah tak berujung.
Kini, perpisahan perlahan tapi pasti mulai menghampiriku. Diam-diam mengintip dari balik pepohonan. Berusaha menyamarkan baunya dengan bau angin. Seolah tak ingin membangunkanku dari hegemoni pertemuan. Membiarkan diriku secara perlahan menyadari kehadirannya. Setiap detik yang berlalu perpisahan semakin dekat dan semakin dekat. Aku tak tahu kapan perpisahan itu akan tiba tepat di depanku dan menyapaku.
Aku belum bisa menerima kehadirannya. Aku pun berusaha menjauh darinya. Namun semua itu terasa percuma. Setiap aku menjauh selangkah, perpisahan mendekatiku dua langkah. Setiap aku berteriak padanya agar Ia pergi, Ia hanya tersenyum padaku dan tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Aku frustasi. Keadaan ini begitu menyiksaku. Aku kutuki Ia dengan segala sumoah serapah yang ku tahu. Bahkan, pertemuan pun turut kujadikan pelampiasan dari kekesalanku. Kenapa harus ada pertemuan jika pada akhirnya harus ada perpisahan? Kenapa? jawab!!
Detik demi detik berlalu dan berganti menit. Menit demi menit pun berlalu dan berganti dengan jam. Jam demi jam pun berlalu dan berganti dengan hari. Keadaan ini tak kunjung membaik. Aku masih saja belum bisa menerima kehadiran perpisahan. Hingga akhirnya perpisahan sudah ada di depanku. Hanya berjarak sehasta dari tempatku berdiri. Menyadari bahwa aku tak bisa menghindarinya, aku pun akhirnya meminta perpisahan berbaik hati padaku. Memintanya berjalan pelan dan membiarkanku menulis catatan terakhirku untuk saudaraku terkasih. Ternyata perpisahan tak seburuk yang aku kira. Ia mau berbaik hati dan membiarkan diriku menuliskan catatan terakhirku sebelum akhirnya membawaku pergi. Aku pun mulai menulis.

Teruntuk saudaraku terkasih,
Ahmad Saifudin

            Wahai saudaraku, masih ingatkah kamu saat pertama kali kita bertemu? Saat engkau hanya bisa tertegun melihatku. Saat wajah polosmu itu bersitatap dengan aku yang lusuh dan kumal ini. Ya, itulah aku yang dulu. Aku saat pertama kali kita bertemu. Sebelum kamu banyak mengubahku.
Kau mungkin dulu berpikir, bisa-bisanya ada orang yang bermuka mirip denganmu. Bahkan bisa dikatakan kita sama dalam hal apapun. Selera kita sama, wajah kita sama, makanan kesukaan kita pun sama. Hanya satu yang nampak berbeda antara aku dan kamu kala itu. Yaitu tampilan kita. Aku yang waktu itu adalah aku yang lusuh dan kumal. Sedangkan kamu adalah kamu yang tampil bak bangsawan dari negeri dongeng yang begitu mempesona.
Saudaraku, meski kita dari dunia yang berbeda, Itu tak sedikitpun menghalangi kita untuk bersama. Tak terhitung lagi berapa banyak langkah kaki yang kita ayunkan bersama. Tak terhitung lagi berapa banyak kenangan yang terhimpun di kepala, baik suka maupun duka. Kita telah lalui semua itu bersama. Hanya aku dan kamu.
Saudaraku, dari hari ke hari kita pun kini makin mirip satu sama lain. Aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Aku bukan lagi anak yang lusuh dan kumal dan kamu bukan lagi bangsawan dari negeri dongeng. Kita telah bertemu di titik pertengahan, titik yang sama,yaitu kita. Kita yang kini merupakan seorang petualang. Kita yang tak lagi terikat oleh latar belakang masing-masing. Maka, hilanglah aku dan hilanglah kamu. Sebut saja kita.
Saudaraku, ingin rasanya aku terus bersamamu dan menjadi kita. Hanya saja perpisahan kini telah ada di depanku. Hanya berjarak kurang dari sehasta dariku. Mau tidak mau, suka tidak suka Ia akan membawaku meninggalkanmu, saudaraku.
Saudaraku, percayalah. Tak sekalipun aku menyesali pertemuan kita. Aku bersyukur pernah bertemu denganmu. Kamu yang begitu berarti bagiku. Kamu yang telah banyak mengubahku.
Saudaraku, waktuku tidak banyak lagi. Kini perpisahan telah berada tepat di depanku. Aku kini seakan bisa meraskan hembusan napasnya.
Saudaraku, jangan pernah tangisi kepergianku. Tegarlah. Aku yakin akan ada yang bisa menggantikanku. Orang yang akan setia menemai perjalananmu. Dan menggantikan peranku sebagai kita.
Saudaraku, aku harus segera pergi. Perpisahan telah memegang tangan kiriku dan mengajakku pergi.
Saudarakau, selamat tinggal. Teruslah berjalan. Teruslah berpetualang. Kejar terus cita-citamu. Meski setinggi langit. Meski tak ada orang yang percaya bahwa kamu bisa. Percayalah, bahwa aku akan selalu percaya padamu. Dan aku akan mendoakan yang terbaik bagimu.

Saudaramu yang terkasih,
Acil


Tak lama setelah aku menulis catatan terakhirku. Perpisahan segera menarikku dan mengajakku berjalan bersamanya. Telah kutaruh catatan terakhirku dengan baik sehingga saudaraku dengan mudah bisa menemukannya. Aku pun pergi.

Posted on 6:44:00 PM by Unknown

No comments

1/01/2015

Aku?

Ku bukanlah manusia terang
Bukan pula manusia petang
Ku di antara keduanya

Silau oleh cahaya terang
Buta oleh gelapnya malam
Hidup dalam temaram

Aku?

Kunang-kunang
Titik kecil dalam kegelapan
Semut
Mendekati yang manis
Katak
Melompat dan terus melompat
Kupu-kupu
berubah dan berubah

Aku?
Aku?
Aku?
....

Posted on 12:05:00 PM by Unknown

No comments

3/05/2013

Dan apakah kamu sedang menikmati langit, bulan, dan hamparan bintang yang mungkin sedang diselimuti awan kelabu?

Aku sedang mencoba menapaki jembatan biru yang melintang di antara sungai besar yang hanya dapat dilalui dari satu arah.

Kau harus mencoba melewatinya. Jembatan itu… pasti ada sesuatu di seberang sana. Namun, yang harus kau ingat adalah kerja keras dan usahamu untuk mencapai seberang karena ini bukan tentang apa yang ada di seberang. Ini hanya apa yang ada di kepalaku.

Bayangan tentang jembatan itu perlahan memudar, mengabur bersama datangnya kabut di pagi hari. Dan aku hanya bisa terpaku memandang kosong ke arah langit yang terkesan begitu sombong kali ini. Entahlah.


Posted on 11:30:00 PM by Unknown

No comments