2/06/2014

Sinopsis buku Ayah Buya Hamka
"Ayah..." Kumpulan Kisah Buya Hamka
Buya Hamka. Begitulah orang akrab memanggilnya. Lelaki bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini merupakan salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini. Ya bisa dibilang beliau termasuk salah satu manusia langka yang pernah dimiliki Indonesia. Belum tentu dalam jangka waktu 100 tahun akan dilahirkan Hamka-Hamka yang lain dari rahim seorang perempuan Indonesia.

Seberapa jauh kita mengenal Buya Hamka? Mungkin tak banyak. Kebanyakan dari kita cuma mengenal luarnya saja dari buku-buku sejarah yang telah usang. Lantas, Bagaimana kalau seorang anak dari Buya Hamka mencoba mengenalkan sosok Buya Hamka kepada kita lewat sebuah buku? Cukup menarik…

Ayah…

Adalah Irfan Hamka nama anak tersebut (kalau sekarang lebih cocok dipanggil kakek). Seorang anak dari Buya Hamka sekaligus penulis buku “Ayah…”. Lewat buku ini kita bisa mengenal lebih dekat sosok Buya Hamka. Entah itu sebagai seorang ulama, politisi, sastrawan, maupun sebagai seorang ayah. Irfan Hamka mampu mendeskripsikan kepada kita sosok Buya Hamka dengan baik. Cukup dengan bahasa yang ringan namun sarat akan makna.

Lewat buku “Ayah…” kita seakan mengenal Buya Hamka secara personal. Kita bisa melihat berbagai peristiwa besar yang pernah dialami oleh Buya Hamka, termasuk yang berkaitan dengan urusan keluarga.

Buku “Ayah…” terdiri dari 10 bagian, yang isinya :

Bagian Satu..
Sebelum bercerita tentang sosok Buya Hamka, penulis mengajak kita untuk sejenak mengenang nasihat dari Buya Hamka yang begitu berkesan bagi penulis. Nasihat yang dianggap masih relevan dengan kondisi saat ini.

Bagian Dua..
Pada bagian ini secara khusus penulis mencoba menghadirkan sosok Buya Hamka di mata anak-anaknya ketika mereka masih kecil. Tak banyak dan tak runtut namun cukup untuk menggambarkan sosok Buya Hamka, ayah yang begitu disayang oleh keluarganya.

Bagian Tiga..
Unik. Mungkin itulah kata yang paling tepat untu menggambarkan bagian ini. Di sini penulis bercerita tentang kisah Buya Hamka berdamai dengan jin penunggu rumah mereka.

Bagian Empat..
Pada bagian ini penulis bercerita tentang pengalamannya beserta ayah dan ibunya ketika menjadi pelaut. Eh, maksud saya ketika naik haji. Biarpun gak salah juga sih, karena waktu itu perjalanan menuju tanah suci masih ditempuh menggunakan kapal laut. Haha.

Bagian Lima..
Perjalanan ke tanah suci bisa jadi kurang lengkap jika tidak berkunjung ke negara arab yang lain, sebut saja Suriah, Lebanon, Irak, dan Kuwait. Pada bagian inilah perjalanan ke negara-negara tersebut diceritakan. Sebuah perjalanan antara hidup dan mati.

Bagian Enam..
Penulis di sini mencoba mengemukakan pendapatnya bahwa Buya Hamka merupakan seorang sufi. Bukan sekedar pendapat kosong namun disertai beberapa alasan.

Bagian Tujuh..
Dibalik seorang lelaki hebat di belakangnya selalu ada sosok perempuan yang hebat pula. Diceritakan di sini sosok perempuan hebat dibalik nama Buya Hamka. Siapa lagi kalau bukan  adalah istri beliau, Siti Raham.

Bagian Delapan..
Siapa sih yang tidak suka dengan kucing? Saya kira hampir semuanya suka. Nah, ternyata Buya Hamka juga memiliki seekor kucing kesayangan bernama si kuning. Kucing yang setia.

Bagian Sembilan..
Pada bagian ini penulis bercertia tentang lika liku kehidupan ayahnya mulai dari kecil hingga menjadi Buya Hamka yang kita kenal saat ini dengan sejumlah karyanya. Sebut saja tafsir Al-Azhar, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan masih banyak lagi. Bagian ini semakin menarik karena ditambahkan pula tentang kisah hubungan Buya Hamka dengan tokoh nasional yang lain.

Bagian Sepuluh..
Akhir dari isi buku ini sekaligus akhir dari segala cerita. Bagian ini mengisahkan detik-detik sebelum Buya Hamka meninggal dunia.

Belajar sejarah mengajak kita untuk menengok jauh ke belakang. Mengenang kembali peristiwa-peristiwa yang telah lampau. Bukan berarti kita “gagal move on”, namun lewat sejarahlah kita merangkai masa depan yang lebih baik. Meminjam kalimatnya Bung Karno, “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!”.


#Acil dan masa lalu

Posted on 6:43:00 PM by Unknown

No comments

2/05/2014

Waktu, perlahan tapi pasti terus berjalan. Meninggalkan siapapun dan apapun di belakang. Waktu itu relatif. Satu jam berekreasi bisa jadi terasa sebentar sedangkan satu menit saja di atas bara api bisa jadi terasa lama sekali. Begitulah waktu, pasti berjalan namun tak pasti rasanya.

Bicara tentang waktu, tenyata sudah setahun lamanya saya bergabung bersama Solo Mengajar (SM). Entah sudah berapa lembar cerita yang tertulis dan sudah berapa banyak potret yang terekam. Tidak ada yang tahu jumlah pastinya, namun pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit berbagi memori saya tentang Solo Mengajar selama setahun ini.

Awal Mula, #SM, setahun bersama...
Mengajar dan anak-anak merupakan dua hal yang menyenangkan bagi saya. Lewat mengajar saya bisa berbagi banyak hal sedangkan dari anak-anak saya banyak belajar tentang keceriaan dan ketulusan. Dua hal yang saya cari di penghujung tahun 2012. Alhamdulillah, Allah menyegerakan hal baik untuk saya. Lewat perantara seorang teman, Januari 2013 saya mengenal yang namanya Solo Mengajar. Terima kasih Apriliana Kurniasari.

Saya masih ingat betul ketika pertama kali menginjakkan kaki di Taman Cerdas Mojosongo. Mulai dari, “Eh, ini acara apaan?”, “ Kok ada banyak anak-anak?”, “Itu mas dan mbaknya siapa dan mau ngapain?”, hingga “Solo Mengajar itu apa?”. Harap maklum karena waktu itu saya asal ngekor aja si nia tanpa tau arah dan tujuan…Haha. Usut punya usut, tenyata mas dan mbaknya adalah volunteer SM yang akan melaksanakan kegiatan rutin mereka, mengajar di Taman Cerdas Mojosongo.

Sekali untuk Seterusnya, #SM, setahun bersama...
Belum kelar rasa senengnya karena akhirnya menemukan dua hal yang saya cari, eh sudah diminta ikutan ngajar. Waduh…gimana ini? Saya gak ngerti apa-apa. Tapi asal jalanin aja deh, tidak ada salahnya juga dicoba. Dan korban pertama saya adalah kelas 5 SD, kelas yang berisi sekumpulan anak hyper aktif. Sebentar, sepertinya malah saya yang jadi korban. Tak banyak nama yang kuingat dari anak kelas 5 pada waktu itu. Nampaknya cuma Bunga nama yang kuingat, seorang anak perempuan chubby dengan potongan rambut mirip Dora.

Awalnya sih agak kikuk namun mulai biasa seiring detik berganti menit dan menit berganti jam. Tak terasa satu jam sudah berlalu dan selesai pula kegiatan belajar pada malam itu. Tambahan, waktu itu pelajarannya adalah Bahasa Inggris dan saya lupa bahasa inggrisnya pramugari itu apa. Haha. Biarpun mengajar pertama saya tidak bisa dikatakan sukses namun dari sinilah saya memutuskan untuk terus mengajar di sini, di Solo Mengajar.

Keterbukaan, #SM, setahun bersama...
Bertemu dengan orang-orang baru dan lingkungan baru selalu saja menyenangkan. Apalagi jika lingkungan baru tersebut sangat kondusif. Keterbukaan. Itulah yang kurasakan di Solo Mengajar. Memang kami baru saja mengenal satu sama lain, namun rasanya seperti sudah lama. Sekali lagi, waktu itu relatif.

Demikian tadi kisah saya saat pertama kali mengenal Solo Mengajar. Sebuah kisah yang mengawali lahirnya kisah-kisah yang lain. Nantikan juga kelanjutan kisah ini di postingan berikutnya. Masih di edisi spesial #SM, Setahun Bersama.
Bagi kalian yang tertarik dengan Solo Mengajar, bisa tuh kunjungi saja web, facebook, maupun twitter Solo Mengajar. Kebetulan Solo Mengajar lagi ada Open Recruitment untuk volunteer VII. Jangan sampai ketinggalan. SM…Top!

Informasi lebih lanjut :
Web                    : solomengajar.org
Facebook         : Solo Mengajar
Twitter              : @SoloMengajar

#Acil and friend's

Posted on 7:03:00 AM by Unknown

No comments

2/03/2014

KEDAULAN ITU di TANGAN RAKYAT. Ya, cuma 5 menit dan setiap 5 tahun sekali.

Saya rasa kalimat di atas cukup bisa menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Kapan lagi suara rakyat dicari-dicari, dinomor satukan, dan masuk perhitungan kalau tidak waktu pemilu. Saya kira waktu 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar, sedangkan waktu 5 menit benar-benar waktu yang sebentar. Akan sangat disayangkan jika  waktu 5 menit yang berharga tersebut kita lewatkan begitu saja tanpa membuat pilihan yang benar.

Untuk itu, sudahkah Anda menentukan pilihan pada pemilu 2014 ini? Nyontreng atau golput? Partai Hitam apa Partai Putih? Caleg A apa Caleg B? Capres X atau Capres Z?

Bagi yang sudah memilih,
Saya ucapkan SELAMAT karena Anda telah berani memilih.  Akan tetapi tidak ada salahnya untuk di cek kembali, barangkali ada pilihan yang lebih baik. Barangkali lho ya…

Bagi yang masih belum menentukan pilihan,
Saya kira belum terlambat untuk memilih. Setidaknya masih ada waktu kurang lebih 2 bulan untuk menentukan pilihan. Mari kita gunakan waktu 2 bulan ini untuk ‘semedi’, berpikir dengan jernih agar bisa menentukan pilihan yang terbaik.

Oke, mari coba kita uraikan pertanyaan di atas satu persatu.

Pertama, nyontreng atau golput? Sebuah pertanyaan yang akan mempengaruhi jawaban dari pertanyaan selanjutnya. Bagi yang memilih nyontreng maka pertanyaan akan berlanjut sedangkan bagi yang memilih golput maka pertanyaan berhenti sampai di sini.

Dengan nyontreng, berarti Anda telah turut berpartisipasi dalam menentukan masa depan bangsa ini dalam kurun waktu 5 tahun ke depan. HEBAT bukan? Sedangkan jika Anda memilih golput maka jangan pernah Anda bertanya tentang kabar bangsa ini, apalagi sampai menuntut ini dan itu.  Tidak pantas.

Golput dari tahun ke tahun makin tenar saja. Jumlah pemilihnya semakin banyak saja. Bisa jadi dalam beberapa tahun ke depan golput lah yang akan memenangi sebuah pemilu. Mereka yang memilih menjadi golongan putih tentunya mempunyai alasan tersendiri, mulai dari kecewa dengan pemerintahan yang ada, calon yang tidak dikenal, takut salah pilih dan lain sebagainya. Saya di sini tidak mau menyalahkan mereka yang memilih golput karena bagi saya itu merupakan salah satu sikap politik dan itu adalah sebuah pilihan.

Bagi kalian yang merasa tidak puas dengan pemerintah dan wakil rakyat yang ada saat ini, maka saya sarankan untuk memilih “nyontreng”. Bagi saya itu merupakan salah satu bentuk usaha Anda untuk memilih pengganti yang lebih baik. Bingung mau pilih siapa? Jawabannya gampang, pilihlah yang terbaik dari yang baik, jika sampai tidak ada yang baik, maka pilihlah yang paling sedikit jeleknya. Simpel kan..

Oke, bagi yang sudah atau akan memilih “nyontreng” mari kita lanjut ke pertanyaan selanjutnya. Partai Hitam apa Partai Putih? Caleg A apa Caleg B? Capres X atau Capres Z? memilih nyontreng saja ternyata tidak cukup karena kita masih dihadapkan pada pilihan-pilhan yang lain. Mulai dari partai, caleg, hingga capres.

Untuk partai, saya kira ini merupakan pertanyaan yang lebih mudah ketimbang 2 pertanyaan selanjutnya. Hampir semua partai peserta pemilu 2014 ini bukanlah partai baru, hampir semuanya telah menjadi peserta pada pemilu 5 tahun silam. Dari situ setidaknya kita bisa mengetahui track record partai tersebut. Mulai dari jejak prestasi hingga jejak korupsi. Di zaman digital ini semua informasi tersebut dapat dengan mudah didapatkan jika mau mencari. Sekali lagi, jika mau mencari.

Untuk caleg, saya kira ini pertanyaan yang cukup sulit. Pertama, tak jarang kita menemukan fenomena “mendadak caleg” di sekitar kita. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba penjual nasi goreng gang sebelah ikut-ikutan nyaleg, misalnya saja. Bukan bermaksud meremehkan namun di sini saya ingin kita turut mempertimbangkan kehadirannya. Ya kali aja para pendatang baru ini justru memiliki telinga yang lebih peka dari pada muka-muka lama.  Kedua, banyak nama yang tidak kita kenal. Untuk caleg sekelas DPR RI bisa jadi kita masih mengenalnya namun untuk sekelas DPRD saya kira lebih banyak yang tidak kita kenal dari pada yang kita kenal.

Terus gimana dong milihnya? Sama seperti ketika memilih sebuah partai, kita lihat track record para caleg tersebut. Yang paling mudah, coba aja cari halaman facebook, twitter, akun sosmed lainnya dari caleg tersebut. Barangkali ada informasi yang bisa membantu kita untuk memilih. Kepo dikit gak papa lah. Demi kebaikan…

Repot ya? Iya sih…nah, bagi yang gak mau repot milih satu caleg dari sejuta caleg yang ada (kalau yang ini lebay). Pilih saja partainya. Kalau memang sudah percaya dengan partai tersebut , tidak ada salahnya untuk memberikan kepercayaan pada partai tersebut untuk menentukan wakil yang tepat untuk kita. Ya tentu saja tepat di sini tepat menurut versi partai tersebut.

Untuk capres, ini yang terakhir sekaligus yang paling penting. Ada sebuah ungkapan bahwa pemimpin itu ibarat mata air, baik buruknya akan mempengaruhi kondisi air di hilir, dalam hal ini rakyat. Jadi, mari kita pikirkan dengan matang bahkan kalau perlu sampai gosong pilihan kita yang satu ini.

Pendaftaran capres dan cawapres memang belum dibuka, namun sudah ada beberapa nama yang mulai mengudara. Ada yang secara terang-terangan mendeklarasikan dirinya, ada pula yang masih malu-malu, dan ada juga yang masih berjuang terpilih dalam konvensi. Calon-calon yang sudah ada tersebut memang belum pasti maju sebagai capres, namun tidak ada salahnya kita mulai dari sekarang untuk mulai memantau sepak terjang para capres tersebut. Kita cermati dengan baik track record mereka. pahami visi misi mereka. dan jangan lupa bayangkan kondisi Indonesia 5 tahun ke depan jika dipimpin capres tersebut.

Sekali lagi, urusan memilih adalah urusan pribadi. Saya yakin setiap orang pada akhirnya akan membuat sebuah pilihan karena tidak memilih pun itu adalah sebuah pilihan. Akan tetapi, marilah kita gunakan akal sehat kita untuk memilih karena setelah pilihan pasti ada konsekuensi. Mari sama-sama berdoa bahwa apa yang sudah kita pilih ini akan membawa kebaikan pada kita semua. Amiin.

Apa yang saya paparkan di atas hanyalah pendapat pribadi, jika ada perbedaan pendapat mari kita diskusikan bersama.


#Acil, Yook Memilih..

Posted on 2:02:00 PM by Unknown

No comments

2/01/2014

REMAKE. Mungkin itulah kata yang paling tepat untuk mewakili apa yang aku lakukan pada blog ini. Blog yang telah hadir semenjak satu tahun ini telah lama terbengkalai, usang-berdebu-bahkan mungkin saja sudah dimakan rayap (anggap saja kayu). Bukan tanpa sebab sih, semua bermula dari serangan dari web sebelah dengan rupiahnya. Tak perlu banyak alasan lagi, rumput di pekarangan tetangga lebih hijau dan pekarangan sendiri pun akhirnya dilupakan.

Sebenarnya waktu itu masih ada keinginan untuk sesekali menengok pekarangan sendiri. Namun apa daya, faktor rupiah dikalikan dengan faktor kebutuhan hasilnya lebih besar dari keinginan itu sendiri. Dan akhirnya “tinta putih” ini benar-benar terlupakan. Biasalah penyakit.

Belum lagi apabila menilik fakta bahwa “tinta putih” itu lahir prematur. Ya, “tinta putih” hadir di saat aku belum siap menerima segala differensial dari kata “aku mau buat blog”. Bingung? Sengaja sih…tapi justru di situlah letak seninya. Haha.

Semua gara-gara adanya penugasan yang mewajibkan yang ditugasi untuk mengunggah tugasnya di blog pribadi (tettooottt, anda mengulang kata tugas). Baru tahu? Gak penting juga sih, toh itu semua juga tulisanku sendiri. Eh, gak nding ada satu yang merupakan tulisan bersama. Jadi kalau mau dirinci, dari 5 tulisan yang sudah ada, satu merupakan tulisan bersama, dua merupakan penugasan, satu lagi merupakan essay ku, dan sisanya merupakan tulisan yang dibuat dengan kesadaran penuh khusus untuk blog.

Posted on 4:32:00 PM by Unknown

3 comments

4/02/2013


Petualangan Acil kembali berlanjut. Kali ini Acil akan menceritakan tentang pengalaman Acil berguru kepada Jamil Azzaini, seorang ustadz sekaligus seorang motivator. Kejadian ini terjadi pada hari Minggu, 31 Maret 2013. Inilah ceritanya….
Setelah seharian melakukan ‘dinas’ yang melelahkan, maka pulang ke ‘kotak 3x3’ menjadi pilihan utama. Sesampainya di kost saya bertemu abang Wachid yang mau pergi entah kemana. Mungkin pergi ‘dinas’ seperti biasa, maklum orang sibuk. Haha… Tiba-tiba dia mengajakku untuk pergi ke acaranya Jamil Azzaini. Hmm…saya tidak tahu siapa itu Jamil Azzaini, cuma merasa pernah mendengar namanya namun tidak tahu menahu tentang orangnya. Dikarenakan saya tidak punya agenda untuk malam ini jadi saya mempersilahkan si abang untuk ’menculikku’ malam ini. Usut punya usut ternyata Jamil Azzaini adalah seorang penulis buku, motivator, dan bisa dikatakan seorang ustadz pula. Ternyatanya lagi malam ini akan ada bedah buku Jamil Azzaini yang ke-4 berjudul 4ON di Jaten, lebih tepatnya di sebuah masjid bla bla bla(saya lupa namanya :D).

Posted on 5:24:00 PM by Unknown

4 comments

3/05/2013

Dan apakah kamu sedang menikmati langit, bulan, dan hamparan bintang yang mungkin sedang diselimuti awan kelabu?

Aku sedang mencoba menapaki jembatan biru yang melintang di antara sungai besar yang hanya dapat dilalui dari satu arah.

Kau harus mencoba melewatinya. Jembatan itu… pasti ada sesuatu di seberang sana. Namun, yang harus kau ingat adalah kerja keras dan usahamu untuk mencapai seberang karena ini bukan tentang apa yang ada di seberang. Ini hanya apa yang ada di kepalaku.

Bayangan tentang jembatan itu perlahan memudar, mengabur bersama datangnya kabut di pagi hari. Dan aku hanya bisa terpaku memandang kosong ke arah langit yang terkesan begitu sombong kali ini. Entahlah.


Posted on 11:30:00 PM by Unknown

No comments