2/12/2015


Setelah Perjalanan Suci (Part 1: Senin Pertama), kini saatnya menapaki jejak langkah dari Perjalanan Suci (Part 2: Selasa Luar Biasa). Inilah jejaknya..

taman cerdas sumber solo mengajar
Kartu Pintar
SELASA, SEMAKIN TERASA...
            Selasa sore, perjalanan suci ini kembali berlanjut. Kali ini giliran TC Sumber yang menjadi tujuanku. Satu yang selalu kuingat tentang TC Sumber adalah batu. Ya, batu. Begitu memasuki TC Sumber kita akan disambut dengan hamparan batu-batu hitam berbentuk bulat yang tersusun rapi di sepanjang jalan setapak. Sungguh anggun. Fungsinya sudah seperti red carpet ala Hollywood saja, menyambut setiap orang yang datang dengan kemewahannya. Itulah TC Sumber.
            Sore itu karena satu dan lain hal aku datang terlambat. Kegiatan belajar mengajar sudah dimulai begitu aku tiba di sana. Sebelum beranjak dari sepeda motor dan bergabung dengan vols yang ada, aku menyempatkan diri untuk sejenak mengamati keadaan di sana. Sekilas terlihat olehku sekelompok anak kelas 1 sampai 3 SD sedang bermain dengan kakak-kakak vols di taman, kemudian anak-anak yang lain sedang asyik belajar di pendapa. Samar-samar terdengar suara riuh rendah dari pendapa. Hal ini cukup menarik perhatianku,, ada apakah gerangan di sana?
            Dan….jreng jreng…jawabannya adalah….*hening sejenak
Kartu! Kulihat anak-anak sedang asyik bermain kartu. Iya…kartu. Eittzz…tapi bukan sembarang kartu. Kartu ini bernama kartu pintar. Kartu berukuran kecil, sekitar 4x6 cm dengan tulisan angka-angka yang berbeda di setiap lembarnya. Siapa sangka kartu sekecil ini dapat membuat suasana sore itu pecah, benar-benar pecah. Tak terasa ujung bibir ini mulai naik, kanan dan kiri satu centimeter secara simetris yang kemudian membentuk cekungan yang memberikan sebuah rasa tersendiri. Rasa yang tidak lain merupakan sebuah rasa bahagia melihat kelucuan dan antusiasme anak-anak memainkan kartu tersebut.
            Saat aku datang permainan kartu ini sudah hampir selesai. Di hadapanku tinggal tersisa dua orang anak yang sedang berusaha saling mengalahkan satu sama lain. Bagi keduanya seolah-olah ini adalah pertarungan hidup dan mati. Terlihat dari ekspresi mereka ketika akan memilih kartu yang akan mereka keluarkan. Seolah berharap bahwa itu merupakan angka keberuntungan mereka. Dan…suasana seketika pecah ketika keduanya mengeluarkan kartunya secara bersamaan.
56! 72! Seolah sedang terancam bahaya, mereka menggunakan seluruh sisa-sisa suara mereka untuk meneriakkan angka tersebut secepat mungkin. Angka yang mereka teriakkan tadi merupakan hasil perkalian dari dua angka yang terdapat pada kartu yang mereka keluarkan. Yang kalah cepat dalam menebak maka dia harus mengambil kartu temannya tersebut. Pemenangnya adalah dia yang paling cepat menghabiskan kartu yang ada di tangannya. Lucunya, terkadang dalam dua giliran keluar kartu yang sama namun mereka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menebak hasil perkaliannya bahkan sampai salah menebak. Hal ini sontak mengundang gelak tawa anak-anak lain dan kakak-kakak vols.
taman cerdas sumber solo mengajar
Serunya Kelas Berhitung Menggunakan Kartu Pintar
Ah, siapa sangka dengan kartu kecil tadi dapat menjadi media pembelajaran yang menyenangkan. Hal ini seolah mengingatkanku bahwa belajar dapat menggunakan media apa saja. Bahkan tak jarang hal itu merupakan sesuatu yang sering kita abaikan. Sekali lagi, inilah TC Sumber. Sumber keceriaan. Sumber kreativitas.

PERJALANAN PUN BERLANJUT...
                Masih di Selasa yang sama dengan cahaya yang berbeda. Kini cahaya matahari sudah digantikan oleh cahaya lampu. TC Gandekan yang merupakan rumah sendiri menjadi tujuan berikutnya. Kusebut rumah sendiri karena di sinilah aku ditempatkan selama lebih dari setahun ini sebagai vols Solo Mengajar. Satu kata yang menurutku paling menggambarkan TC Gandekan adalah merah. Bangunan yang memang didominasi warna merah ini seolah menyimpan energi lebih bagi siapapun yang memasukinya. Tak heran jika anak-anak di sini cukup atraktif.
            Bagiku tiada tempat yang lebih menyenangkan selain rumah sendiri. Begitu pula dengan TC Gandekan bila dibandingkan dengan TC lain. Meski  di sini aku harus menghadapi anak-anak yang super atraktif dengan segala tingkah laku mereka yang tak jarang membuatku mengelus dada. Namun sesuai dengan hukum Newton ketiga, aksi sama dengan reaksi, di sini aku mendapatkan modal yang sangat berharga untuk menghadapi mereka. Modal itu berupa volunteer super kece dengan “kegilaan” tingkat tingginya serta pengurus TC yang ternyata tak kalah “gilanya”. Ah, sungguh setimpal. Tuhan Maha Adil.
            Malam itu begitu aku datang, suara riuh rendah anak-anak langsung menyambutku. Beberapa orang anak terdengar memanggil-manggil namaku, “Mas Udin…”. Tak lama kemudian ada sekelompok anak kelas 1 dan 2 SD yang menghampiriku dan menggelayut manja sambil berusaha memegang jenggotku. Ya, jenggot. Jenggot yang kubiarkan tumbuh subur di daguku ini sejak dulu sudah menjadi magnet tersendiri bagi anak-anak, terutama kelas 1 dan 2 SD. Dan karena “akar nafas” alias jenggot inilah kemudian mereka memanggilku Mas Udin Jenggot yang kemudian disingkat Udje. Sebuah nama yang kemudian dipakai teman-teman vols Solo Mengajar untuk memanggilku. Semacam nama panggung gitu. Haha.
            Teeetttttt….teeeetttt….teeettttt. Bel telah berbunyi sebanyak tiga kali, kegiatan belajar mengajar sudah saatnya dimulai. Anak-anak pun mulai berlarian menuju ke kelasnya masing-masing. Kelas 1 dan 2 SD belajar di ruang perpustakaan, kelas 3 dan 4 SD belajar di ruang IT, sedangkan kelas 5 SD hingga SMP belajar di pendapa. Tak mau kalah dengan adik-adik, kami pun segera menempatkan diri sesuai dengan pembagian kelas yang telah disepakati sambil mengajak adik-adik yang masih asyik bermain. Aku sendiri malam itu mengajar murid langgananku, Dhea, dkk yang sekarang duduk di bangku kelas 6 SD.
            Selasa malam itu TC Gandekan lagi-lagi mengeluarkan magisnya dengan memberikan energi yang berlebih pada siapapun yang ada di dalamnya. Dengan energi yang berlebih ini kegiatan belajar mengajar menjadi lebih “meriah”. Beberapa anak yang kelebihan energi mencoba menggunakannya untuk berlarian dan mengusili teman-temannya yang sedang belajar. Hal ini membuat kami mau tidak mau harus menyerap energi yang diberikan oleh TC Gandekan sebanyak mungkin agar bisa mengimbangi mereka.
taman cerdas gandekan solo mengajar
Kelas 1 dan 2 Taman Cerdas Gandekan
            Ah, lagi-lagi teori relativitas Einstein bekerja di sini. Tak terasa kegiatan belajar telah berakhir dan segelas teh hangat telah menanti kami. Teh hangat yang selalu setia menemani obrolan kami pasca mengajar. Teh hangat yang di kemudian hari pasti akan sangat kurindukan. Bukan karena rasanya namun karena kebersamaan yang ditawarkan dalam setiap tegukannya.

            Malam itu kami seolah enggan untuk cepat-cepat meninggalkan TC Gandekan. Kami masih saja asyik mengobrol meskipun waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Sepertinya pantat ini terlanjur mengakar begitu dalam sehingga sulit sekali untuk diangkat. Namun, rumah ini bukanlah tujuan akhir dari perjalanan kami sehingga kami pun harus pergi melanjutkan perjalanan masing-masing. Sampai berjumpa lagi kawan. Di TC Gandekan, di rumah kami.

Jejak langkah berikutnya, Perjalanan Suci (Part 3: Akhir Sempurna)

Posted on 1:17:00 PM by Unknown

No comments

2/09/2015

Sungguh, bahagia itu sederhana. Sesederhana sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Sesederhana hujan yang turun di musim penghujan. Ya, sesederhana itu. Bagiku, bahagia pun sesederhana itu. Melihat orang lain tersenyum merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku, terutama senyum anak-anak. Senyum yang begitu tulus dan miskin akan kepura-puraan. Aku sendiri telah menemukan tempat dimana sumber kebahagian itu berada. Tempat itu bernama Taman Cerdas. Tempat dimana aku bisa menemukan sekumpulan anak dengan senyum tulusnya.
Singkat cerita, aku sering menyempatkan waktu barang sejenak di sela-sela kesibukanku sebagai mahasiswa tingkat akhir untuk berkunjung ke Taman-Taman Cerdas (TC) yang ada di Kota Solo. Enggak sibuk-sibuk banget sih…lebih tepatnya “pengacara”, pengangguran banyak acara. Haha. Namanya juga mahasiswa tingkat akhir. Hm…sebut saja mahasisa.
Dalam kesempatan ini aku ingin berbagi cerita tentang perjalanan “suciku” (suka citaku). Perjalanan ini aku lakukan selama 4 hari berturut-turut. Empat hari 5 Taman Cerdas, berlapis-lapis senyuman, segudang kebahagiaan.

Solo Mengajar
Perjalana Suci
SEMUA BERMULA DI HARI SENIN...
            Senin malam, gerimis romantis mengiringi perjalanan suciku ke Barat untuk mencari kitab suci. Eh, maksudku ke TC Pajang. Kusebut perjalanan ke Barat karena memang tempat ini berada di ujung Barat Kota Solo sedangkan domisiliku di ujung Timur Kota Solo.
            Pajang. Setiap kali mendengar nama tersebut pikiran ini selalu saja melayang jauh ke belakang. Jauh sebelum uang kertas bergambar monyet dan perahu layar digunakan. Jauh sebelum Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Hingga akhirnya sampailah ke masa kejayaan kerajaan-kerajaan nusantara di mana Kerajaan Pajang menjadi salah satu aktornya. Ah, kok jadi malah bicara tentang sejarah.
            Baik, kembali ke tahun 2014 di mana perjalanan suci ini terjadi. Malam itu aku menjadi vols pertama yang tiba di TC Pajang. Pintu perpustakaan yang biasa digunakan sebagai tempat pembelajaran masih terkunci rapat. Meskipun demikian di pendapa sudah banyak anak-anak yang asyik bermain atau sekedar bercanda dengan teman sebayanya. Sambil menunggu vols lain datang, aku sibuk mengamati tingkah polah mereka. Entah mengapa diri ini saat itu rasanya ingin mengamati saja apa yang mereka lakukan dari kejauhan. Melihat mereka berlari-lari, bersendau gurau, dan tentu saja tersenyum riang. Meski sempat ada insiden ada anak yang menangis tapi itu tetap tidak mengurangi keceriaan mereka. Ah, bahagianya.
            Tak terasa  vols lain mulai berdatangan dan pembelajaran segera dimulai. Hujan dan jarak TC Pajang yang cukup jauh turut memberi andil pada sedikitnya vols yang datang malam itu. Alhasil, aku yang berniat menjadi pengamat pun beralih profesi menjadi pengajar. Kini, di depanku sudah ada 4 orang anak kelas 5 SD yang siap kuracuni dengan rumus-rumus matematika. Haha. Tenang, pembelajaran berlangsung dengan menyenangkan kok.
            Memang benar kata Einstein dengan teori relativitasnya. Segala kebahagiaan yang membuncah jadi satu malam itu telah mereduksi waktu satu jam menjadi seolah hanya satu menit. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam dan kegiatan belajar mengajar harus diakhiri. Segelas teh hangat dan makanan ringan sudah menanti kami di ruang perpustakan. Terima kasih Bu Evi, penjaga perpustakaan TC Pajang yang selalu setia mendampingi kami bahkan menyediakan “logistik” bagi kami. Kami pun berbincang-bincang sejenak sambil menikmati hidangan yang telah disajikan sebelum beranjak pulang. Seperti halnya ketika aku datang, gerimis romantis kembali mengiringi kepulanganku malam itu.

Posted on 12:12:00 PM by Unknown

No comments

1/01/2015

Aku?

Ku bukanlah manusia terang
Bukan pula manusia petang
Ku di antara keduanya

Silau oleh cahaya terang
Buta oleh gelapnya malam
Hidup dalam temaram

Aku?

Kunang-kunang
Titik kecil dalam kegelapan
Semut
Mendekati yang manis
Katak
Melompat dan terus melompat
Kupu-kupu
berubah dan berubah

Aku?
Aku?
Aku?
....

Posted on 12:05:00 PM by Unknown

No comments

10/28/2014

arti sumpah pemuda
Sumpah Pemuda
Bukan sekedar ucapan tanpa arti, tapi sebuah ikrar penuh visi
Sumpah pemuda mengingatkan kita bahwa Indonesia ini dibangun atas dasar perbedaan, baik agama, suku, kebudayaan, kepulauan dan beragam latar belakang perbedaan. Perbedaan yang ada bukan jadi halangan bagi kita untuk bersatu karena kita punya kesamaan, yakni tanah air, bangsa, dan bahasa. Itulah Sumpah Pemuda yang diikrarkan para pemuda yang dijadikan dasar untuk bersatu, berjuang meraih kemerdekaan.

Nyalakan kembali semangat Sumpah Pemuda, semangat persatuan
Saat perbedaan atas nama agama dan etnis semakin ditonjolkan, kekerasan banyak dipertontonkan, konflik antar kepentingan  semakin menjadi – jadi, serta korupsi yang menjamur sudah saatnya patriotisme kepemudaan digelorakan kembali. Jangan biarkan hal – hal negatif tersebut mengkhianati jiwa Sumpah Pemuda.

Sebagai pemuda, tunas bangsa sekaligus tulang punggung bangsa sudah selayaknya kita mempelajari sejarah bangsa ini. Belajar dari pengalaman masa lalu untuk selanjutnya memahami nilai-nilai perjuangannya dan semangat-semangat perubahannya. Bangsa yang tidak tahu akan sejarah bangsanya, sama saja dengan seorang anak yang kehilangan induknya, tidak mempunyai penunjuk arah perkembangan bangsa.
                                                                                  
Indonesia itu satu. Satu untuk semua, semua golongan serta komponen bangsa. Di hari Sumpah Pemuda kali ini marilah kita gelorakan kembali semangat Sumpah Pemuda, semangat persatuan. Dengan berdasar Bhinneka Tunggal Ika mari kita berjuang bersama – sama demi kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA, HIDUPLAH NEGRIKU, JAYALAH INDONESIAKU!! BERSATULAH BANGSAKU!!

*Sebuah tulisan lamaku saat masih menjadi staf KASTRAD BEM FT UNS

Posted on 6:00:00 AM by Unknown

No comments

7/14/2014

Mencari perbedaan…

taman cerdas gandekan solo mengajar
Aku Pahlawan Bertopeng
Inilah yang saat ini sedang kami cari di Taman Cerdas (TC) Gandekan, perbedaan. Saya percaya bahwa setiap anak itu spesial. Mereka punya bakat dan minat masing-masing dan itu harus dikembangkan. Kami juga tidak bisa menunggu mereka mengucapkan “saya beda”, kami harus mencarinya sendiri. Istilah kerennya, jemput bola.

Namun siapakah kami? Kami adalah volunteer Solo Mengajar yang membersamai adik-adik belajar 2 kali selama seminggu tiap Selasa dan Kamis mulai jam 19.00-20.00. Kami tidak dibayar, kami sukarela di sini. Meluangkan sedikit waktu kami untuk berbagi.

Dengan waktu pertemuan yang hanya 2 jam selama seminggu ini tentu tidak mudah bagi kami untuk mengetahui perbedaan dari semua adik-adik di sini. Ingat, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Meyakini hal tersebut, akhirnya kami mencoba membuat katalog siswa sebagai sarana untuk memudahkan kami untuk mencari perbedaan mereka.

Katalog siswa ini nantinya selain berisi biodata siswa juga akan berisi catatan dari volunteer yang biasanya mengajar siswa tersebut atau mengenal siswa tersebut. Catatan ini lebih ke bagaimana perilaku mereka, minat dan bakat, bahkan hingga kondisi keluarga jika memungkinkan. Harapannya katalog ini dapat pula digunakan oleh volunteer selanjunya untuk mempermudah mereka mengenal dan beradaptasi dengan adik-adik di TC.

Selain lewat katalog siswa, kami juga melakukan pendekatan secara personal kepada adik-adik terutama mereka yang sudah jelas berbeda. Mereka yang selama ini terlihat punya banyak energi, mereka yang selama ini kesulitan dalam berhitung, mereka yang selama ini banyak menyendiri dan lain sebagainya.

Mereka inilah yang harus segera dicari perbedaannya karena mereka lah yang paling banyak mendapatkan penghakiman akibat perbedaan yang mereka miliki dari orang-orang di sekitar mereka bahkan mungkin guru mereka sendiri. Guru yang seharusnya mendidik justru berubah menjadi hakim yang men cap mereka dengan gelar “anak nakal”, “anak bodoh”, dan masih banyak cap-cap yang lain. Jika mereka memahami betul profesi mereka tentu mereka tidak akan melakukan hal seperti itu.

Pergerakan bukan program

Perlu diingat dan dipahami betul oleh setiap volunteer Solo Mengajar bahwa apa yang kita lakukan tidak boleh berhenti di situ. Masih banyak PR yang harus kita kerjakan karena pendidikan di Indonesia masih menyimpan segudang masalah dan yang namanya masalah itu pasti adanya, kapanpun dan dimanapun.


Selama kita punya hati, tentu kita tidak pernah merasa bahwa tugas kita sudah selesai. Ini pergerakan bukan program. Kita harus terus bergerak, kapanpun dan dimanapun.

Posted on 10:47:00 AM by Unknown

No comments

taman cerdas gandekan solo mengajar
Saya Beda
Saya beda. Dua kata yang tak sulit untuk dipahami bagi kita orang dewasa, bahkan begitu mudah kita ucapkan. Namun apakah kata tersebut bisa diucapkan begitu saja oleh seorang anak kecil?

Saya mencoba membayangkan ada seorang anak yang selama ini mendapatkan cap sebagai anak bodoh hanya karena lemah di pelajaran matematika bisa mengucapkan “saya beda, saya itu sukanya bernyanyi”

Saya juga mencoba membayangkan ada seorang anak yang selama ini terkenal bandel, nakal, dan suka usil di kalangan guru-guru berani bilang, “saya beda, saya hanya punya energi berlebih”

Saya lagi-lagi mencoba membayangkan seorang anak yang menderita disleksia, berani mengucapkan “saya beda” kepada gurunya sehingga ia mendapatkan perlakuan khusus dari gurunya, bukan justru mendapatkan cap pemalas apalagi bodoh hanya karena memiliki dunianya sendiri.


Tidak tidak. Terlalu berlebihan rasanya membayangkan hal seperti itu. Hati seorang anak terlalu bersih untuk mencari-cari alasan akan ketidakmampuannya. Tidak seperi kita yang selalu punya berjuta alasan.

Posted on 10:35:00 AM by Unknown

No comments